Jumat, 28 September 2012

FF BROTHERSHIP// The Law// Jungsoo(Leeteuk)// PART 1





         


Tittle :: The Law
Genre :: Brothership, Family, little fantasy (?), nan molla -,-
Pairing :: JungTeuk       
Cast :: Kim JungSoo, Kim Leeteuk, Kim Yunho (Appa), Kim Jaejoong (Eomma), dll
Disclaimer :: This Story is MINE and Pairing JungTeuk is M.I.N.E !!!!!! #ngotot#
Warning :: 
* Penggantian nama Marga adalah faktor kesengajaan.
* FF punyaku jadi terserah donk mau aku apain.. ok! ^^ 
* Terima kritik, saran, flame, bash readers  asal untuk membangun tulisan :D
* Terlalu banyak kesalahan dalam penulisan. Maaf..
* NO COPY & NO PLAGIAT (all or same of this part FF without permit from me) READ, YES! :)

~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~~

Sepasang malaikat itu tengah duduk manis di kursi kebesarannya yang tampak berkilau emas. Sedangkan dua malaikat muda yang ada di hadapan mereka tampak menundukkan kepalanya sambil bersimpuh.

Salah satu malaikat yang sedang duduk di kursi itu mempunyai sayap putih bersih. Ia tengah sibuk menatap tajam dengan geram pada dua obyek di depannya. Mata musangnya menyelidik tiap inci ke wajah dua malaikat muda yang ada di hadapannya itu. Jika ini sebuah komik, tentu saja bisa digambarkan dengan kilatan-kilatan petir yang keluar dari kedua matanya.

Berbeda dengan malaikat cantik yang ada di sebelahnya. Ia tidak peduli dengan kedua obyek di depannya, ia justru memandang cemas ke namja tampan yang bersayap putih. Sesekali bibir merah cerrynya bergerak-gerak tak jelas. Entah apa yang ia gumamkan. Bosan dan cemas yang ia rasakan. Kini badannya ikut bergerak gusar membuat sayap hitam di punggungnya bergoyang pelan. Ia benar-benar tak suka dengan kesunyian ini.

"Sudah berapa kali Appa bilang untuk tidak menampakan wujud asli kalian di hadapan manusia, eoh??" ucap malaikat tampan geram.

"Tap...tapi Jungsoo Hyung yang membuatku kesal duluan, jadi aku tidak bisa mengontrol emosiku," bantah malaikat muda bersayap putih. Sedangkan namja yang bernama Jungsoo merasa tidak terima dengan tuduhan itu, langsung memberikan deathglare gratis. Membuat namja di sebelahnya bergidik ngeri.

"Jangan hanya menyalahkan Hyungmu, Teukie-ah! Ini semua karena ulah kalian yang selalu berkelahi itu. Sampai kapan kalian akan berhenti bertindak seperti anak-anak, eoh??" tanya sang Appa dengan nada kesal.

"Mian," sesal Jungsoo.

Wow, tidak biasanya ia mengucapkan kata yang menurutnya tabu itu. Bukan berarti sifatnya jahat atau apa, hanya saja ia paling tidak bisa mengungkapkan kata-kata manis seperti itu.

"Untung saja Raja Siwon tidak menghukum kalian. Aiish, karena ulah kalian itu aku harus memohon-mohon sambil berlutut padanya." Yunho mengacak kesal rambut hitamnya. "Tapi jangan senang dulu, karena Appa yang akan menghukum kalian," lanjutnya.

"Mwo!!" teriak Leeteuk dan juga sang Umma, sedangkan Jungsoo membelalakkan mata almondnya.

"Appa jebal, jangan suruh aku untuk memberi makan ikan-ikan di laut seperti waktu itu!" sahut Leeteuk panik. "Ahh, aku juga tidak mau untuk mendaftar kematian ratu semut," lanjutnya.

‎"Ani. Aku akan memberi hukuman yang mendidik kali ini. Kalian akan aku kirim ke bumi dan menjadi manusia," ucap Yunho datar.

"MWO!!!!!!" teriak si kembar dan sang Umma bersamaan.

"YUNNIE!!"

"APPA!!"

"Andwae, Appa! Aku tidak mau! Jebal! Apapun akan ku lakukan asal tidak di tempat yang penuh kebohongan itu. Jebal Appa, hmm??" Leeteuk menangkupkan kedua tangannya sambil berlutut. Tatapan matanya dibuat se-aegyo mungkin. Tapi naas, sang appa tetap tak bergeming melihat puppy eyesnya.

"Berhenti menatapku seperti itu! Kau tak akan bisa mengubah keputusan Appa, Teukie-ah. Ckck, lihat Hyungmu! Dia tidak menolak keputusan Appa."

Jungsoo yang mendengar ia disebut-sebut langsung mengangkat kepalanya dan menatap sang Appa dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

"Aishh, Hyung cepat katakan sesuatu!" kata Leeteuk sambil menarik-narik lengan Hyungnya.

"Shireo!" sahut Jungsoo singkat. Ia menatap tajam Appanya.
Mendengar komentar anaknya yang diluar dugaan itu membuat mata musang Yunho melebar.

"Kau tidak akan melakukannya kan, Bear??" Giliran Jaejoong yang mengeluarkan puppy eyesnya.

"Ani. Aku akan melakukannya, Boo."

"Mwo! Kau tega melakukan itu, Yun??"

"Kenapa tidak, Boo? Toh ini demi kebaikan mereka juga."

"Mwoya! Kebaikan?? Di tempat itu tidak ada yang baik, Yun. Ayolah my Yunnie Bear, maafkan mereka! Mereka masih anak-anak, Yun. Lagipula kejadian itu bukan kesalahan mereka sepenuhnya."

Mendengar Ummanya mengatakan bahwa mereka masih anak-anak, Jungsoo mendelik menatap umma. Ia paling tidak suka dianggap masih anak-anak.
'Ck, siapa yang anak-anak? Kalau dia, aku percaya,' pikirnya sambil melirik kembarannya.

"Diam, Boo! Sikapmu inilah yang membuat mereka selalu seperti anak-anak. Jangan memanjakan mereka terus!" kata Yunho tegas tapi menusuk. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi Jaejoong yang notabene sangat sensitif?

"Yu..Yunnie?" Jaejoong terkejut dan menatap suaminya itu dengan mata yang siap menumpahkan cairan krystal bening.

"Oke, detik ini juga kalian berangkat. Kalian tidak akan bisa kembali sebelum merubah sikap itu!"

"Andwae! ANDWAE..!!! Umma..umma.. tolong aku! Aku tidak mau, Umma! Appa, Jebal!" teriak Leeteuk panik. Dengan cepat ia menghampiri Jaejoong. Mata almondnya sudah menumpahkan air mata.

Saat tinggal selangkah lagi ia dapat meraih tubuh ummanya, tiba-tiba...

Splaaaaashh...

"ANDWAEEE!!" teriak Jaejoong, lalu ia menatap tajam dengan air mata yang telah mengalir deras ke arah namja tampan yang melakukan itu.

"Huufttt,..." Yunho menghela napas panjang. Ia tahu setelah ini pasti akan ada 'hadiah' yang ia terima dari malaikat cantik itu.

Dua malaikat muda itu kini benar-benar menghilang setelah Yunho menjentikkan jari-jari indahnya. Mungkin sekarang mereka telah sampai di bumi.

____(~,~ )____    ____(~,~ )____    ____(~,~ )____    ____(~,~ )____

"Euunggh..."

Desahan kecil keluar dari mulut Jungsoo saat matanya terbuka sedikit karena belum terbiasa dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela.

"E.. eh dimana ini??" Jungsoo memerhatikan keadaan disekitarnya.

Ia merasa asing dengan kamar itu. Merasa penasaran, ia bangkit dari kasurnya sambil menolehkan kepalanya. Tatapannya tertuju pada namja yang mirip dirinya. Ia masih memejamkan matanya dengan posisi terlungkup.

Tempat itu tenyata hanya mempunyai hanya dua ruangan. Satu kamar mandi dan satu lagi ruangan yang mereka tempati itu sendiri. Ruangan yang sekaligus dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang belajar dan kamar tidur. Oh God, ini lebih mirip seperti kandang. Lebih tepatnya kandang mewah, karena sebenarnya tempat itu benar-benar mempunyai desain minimalis namun tetap modern.

Jungsoo keluar dari kamar itu. Saat pintu terbuka, sebuah taman kecil yang pertama kali terlihat. Well, ternyata itu sebuah rumah bukan apartement. Ia berdiri di tengah pekarangan itu sambil menatap rumah kecil di depannya. Bisakah itu disebut rumah? Tapi kenapa lebih mirip gubuk derita? Yah, meskipun tak separah itu juga sih.

Rumah itu cukup unik. Bangunan yang bundar tidak teratur, atap yang melengkuh berwarna merah dengan motif polkadot putih, pintu dan jendela juga berukuran mini dari biasanya. Singkatnya, rumah itu seperti rumah jamur yang ada di dongeng kurcaci itu.

Meskipun kecil, rumah itu sangat nyaman karena dikelilingi tanaman-tanaman yang berbunga dan juga pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi. Pohon-pohon itu mempunyai cabang jadi sangat mudah untuk dipanjat, dan ternyata ada sebuah rumah pohon juga di atas situ.

"HYUNGIE!!" teriak Leeteuk membuyarkan pikiran Jungsoo. Ia berlari kearah kembarannya itu sambil melambai-lambaikan secarik kertas yang ada ditangannya. "Lihat ini!" suruhnya.

Jungsoo mulai membaca isi kertas itu.

Kalian bisa pulang setelah memperbaiki hubungan kalian. Cepat lambatnya kalian di bumi, tergantung kalian. Jalani kehidupan seperti manusia biasa, dan jangan harap bisa menggunakan kekuatan yang kalian miliki. Appa sudah menyiapkan beberapa keperluan untuk mengawali kehidupan di bumi, termasuk sekolah kalian. Hanya sekolah.

NB :: Jika kau telah mengucapkan satu kata sebagai 'password'nya, saat itu juga kalian kembali.

♥ YunJae ♥

Pesan yang cukup singkat tapi juga cukup membuat mereka bingung. Jungsoo masih tak bergeming. Ia mencerna pesan terakhir di surat itu. 'Apa maksudnya password? Kenapa hanya 'kau' bukan 'kalian'? Untuk siapa password itu?'

"APPAAAA NAPPEUNN...!!" teriak Leeteuk tiba-tiba sambil menengadahkan kepalanya ke langit biru. "UMMAAA YEPPEO JUGA NAPPEUNN...!!!"

"Bodoh!" gumam Jungsoo sebelum masuk ke dalam rumah mini.

Sementara di balik awan, sepasang malaikat tengah mengawasi namja kembar itu.

Namja bermata musang itu terkikik setelah mendengar teriakan namja berambut hitam yang terlihat kekanakkan. "Lihat, Boo! Dia berani mengejek Appanya yang tampan ini." Jaejoong mempoutkan bibirnya lucu. "Dia juga mengejekmu, Boo. Tapi aneh, mana yang benar? Umma yeppeo atau Umma nappeun?" Jaejoong kesal, ia memukul pelan lengan suaminya itu.

"Aku tampan!" tandasnya cepat. Kemudian ia mengepakkan sayap hitamnya dan pergi begitu saja.

____(~,~ )____    ____(~,~ )____    ____(~,~ )____    ____(~,~ )____


"Annyeonghaseyo, Kim Jungsoo imnida. Bangapseumnida." Jungsoo memperkenal diri di depan kelas sambil membungkuk sedikit.

"Annyeong, yeoreobun. Kim Leeteuk imnida. Panggil Leeteuk saja, atau Teukie juga boleh," ucapnya masih dengan senyum yang merekah. Ia memperkenalkan diri dengan bahasa yang tidak terlalu formal.

Suasana kelas menjadi tenang setelah songsaenim berhasil membujuk murid-muridnya untuk tidak ribut. Kedatangan mereka lah yang membuat kelas itu mendadak ricuh. Suatu moment langka mendapatkan teman baru yang serupa itu. Begitu kira-kira pikiran murid-murid itu. Namja kembar itu tidak ada bedanya, mulai ujung rambut hingga ujung jarinya semuanya sama. Seperti foto copy-an.

Musim gugur ini, mereka resmi menjadi murid SJ High School. Appanya telah menyiapkan segala sesuatu untuk sekolah mereka kemarin. Mulai dari surat-surat penting, seragam, dan sejumlah uang yang pasti akan segera habis jika mereka tidak mengisi ulangnya.

"Baiklah kalian boleh duduk. Tapi, sebelumnya ada yang ingin saya tanyakan. Ehmm... yang mana hyungnya?" tanya songsaenim Hankyung kikuk.

"Dia hyungku, Sam." jawab Leeteuk sambil menepuk pundak hyungnya.

Padahal Jungsoo baru akan membuka mulutnya, tapi malah didahului Leeteuk. Jungsoo mendengus.

Hankyung terkekeh pelan. "Kalian tidak ada bedanya. Baiklah, kalian boleh duduk. Cari bangku yang kosong!"

Leeteuk mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Ia mencari tempat duduk yang masih kosong. Akhirnya, mata almondnya berbinar setelah melihat dua bangku kosong di dekat jendela.

"Hyungie, di situ saja!" Jungsoo tidak menyahut. Ternyata ia sudah menempatkan diri di bangku yang bersebelah dengan namja imut. Bangku itu jauh dengan yang dimaksud Leeteuk tadi. Leeteuk hanya menatap hyungnya sambil tetap berdiri.

"Hei, kau boleh duduk di sini kalau kau mau," panggil seorang namja cantik. Ia menepuk bangku di sebelahnya. Leeteuk tersenyum senang.

"Jincha? Gomawo, Chullie," ucapnya setelah ia melihat name tag bertuliskan Kim Heechul di seragamnya.

Leeteuk menyimak penjelasan Hankyung songsaenim, sesekali ia mengobrol pelan dengan teman barunya itu. Meskipun mereka baru saja bertemu, tapi tampaknya kedua namja itu seperti sudah akrab. Leeteuk memang mudah bergaul dengan siapa saja, berbanding terbalik dengan hyungnya.
Kim Jungsoo, namja pendiam, tertutup, tidak bisa mengungkapkan perasaannya, berbicara jika itu dianggap penting, mempunyai jalan pikiran yang tidak bisa ditebak, cerdas dalam banyak hal kecuali dalam hal yang menyangkut perasaan. Satu kata yang tepat untuk menjelaskan itu semua, yaitu cool.



Kim Leeteuk, lahir lebih lambat 15 menit dari hyungnya. Namja ceroboh, manja, usil dengan hyung dan ummanya, kek

anak-kanakkan, mudah bergaul, bicara apa adanya, tidak terlalu pintar seperti hyungnya, tapi ia namja yang peka terhadap lingkungannya. Satu kata yang tepat untuk menjelaskan itu semua, yaitu warm.



Mereka 'dibuang' ke bumi oleh Appanya dengan keputusan sepihak dan menjalankan rutinitas manusia pada umumnya tanpa meninggalkan jejak sosok asli mereka. Akibat kecerobohan mereka, beberapa manusia tak sengaja melihat wujud asli mereka yang tengah melayang di udara. Tentu saja itu membuat gempar manusia di bumi. Itu termasuk pelanggaran.



Sebenarnya saat itu mereka tengah mengadakan pertarungan kecil. Karena kejahilan Leeteuk, ia berhasil membuat hyungnya kesal dan marah. Jungsoo ingin sekali memberi pelajaran saat itu, meski hanya sekedar menjitak kepalanya. Sedangkan Leeteuk tidak akan berhenti jika hyungnya belum beraksi. Sungguh, saat itu benar-benar moment langka yang sangat menyenangkan bagi namja usil itu.



Karena berbeda sifat yang amat jauh, itu membuat mereka sering terlihat tidak akur. Tapi, cepat pula redanya, mengingat sifat Leeteuk yang tidak pernah menganggap pertarungan kecil sebagai hal yang perlu dibesar-besarkan. Sedangkan Jungsoo? Entahlah, tidak ada yang tahu jalan pikirannya.


~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~~


"Hyungie, kau mau makan malam dengan apa? Aku buatkan, ne?" tanya Leeteuk sambil memilih-milih bahan makanan di kulkas mini itu.



"Ani," jawab Jungsoo singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Ia sedang malas makan.



"Aku masak ramen dengan sup kimchi saja ya hyungie?"



Tanpa menunggu jawaban dari hyungnya, ia langsung melesat untuk memasak. Tidak sampai satu 1 jam, makan malam sudah tertata rapi di atas meja kecil.



"Ayo makan, hyungie!" Jungsoo tak meresponnya, ia tetap sibuk dengan bukunya.



Leeteuk bangkit dari kursi meja makan untuk mencari sesuatu. Ternyata ia mengambil beberapa batang lilin lalu mulai menaruhnya di meja makan itu.



"Makan malam telah siap. Kajja, hyungie!"



"Kau duluan," gumam sang kakak tidak tertarik.



"Ayolah hyungie, berhenti menatap lembaran-lembaran itu!" Jungsoo tidak menjawabnya. Diam-diam Leeteuk keluar rumah, tapi melalui ekor mata Jungsoo menangkap gerakan itu.



Klikk!!



"YAKK!!" teriak Jungsoo kesal karena acaranya terganggu.
  

Apa yang terjadi? Ternyata Leeteuk mematikan aliran listrik yang ada di rumah minimalis itu. See! Ulah seperti apa lagi sekarang?

Dengan berjalan pelan, Leeteuk kembali masuk dan mulai menyalakan lilin yang telah ia persiapkan sebelumnya.
  

"Cepat nyalakan!!!" bentak namja cool itu.



"Ani, sebelum hyungie makan. Hhehe..." Leeteuk tertawa pelan melihat hyungnya kesal. "Aku tidak akan menyalakannya sebelum kau makan, dan jangan berpikir untuk menyalakannya karena..." Leeteuk menunjukkan dan menggoyang-goyangkan sebuah kunci kecil untuk mengunci box listrik di samping rumah.



Di saat beginilah Jungsoo ingin sekali menghajar namja yang mirip dengannya. Ia semakin kesal melihat senyum Leeteuk yang menampakkan lesung pipi kecil, sama yang Jungsoo miliki. Mau tak mau Jungsoo pun menurut, membuat Leeteuk tertawa pelan.



"Wow, suasana ini romantis sekali. Kita seperti sedang kencan saja ya, hyungie? Hhihii..."



Mereka mulai menyendokkan nasi ke piring masing-masing.



"Eungh, sebenarnya aku tidak yakin dengan rasanya, hyungie. Tapi aku yakin kalau pun tidak enak, ini tidak akan membunuhmu. Paling hanya sakit perut saja, hyungie. Hihihihi...."



"Ambilkan pisau itu!" pinta Jungsoo menunjuk pisau buah yang ada di atas meja dapur tak jauh dari tempat mereka makan.



Leeteuk menoleh ke arah yang ditunjuk Hyung-nya, "Untuk apa? Tidak ada daging di masakanku, hyungie.." tanyanya heran.



"Tentu saja untuk membunuhmu!" jawab Jungsoo datar dan terdengar serius. Seketika tawa Leeteuk terpecah. Ia lupa jika Hyung-nya yang aneh itu mempunyai selera humor juga.


Mereka pun mulai menikmati makan malam itu tanpa membahas bagaimana rasanya masakan itu.



"Sudah sebulan di sini, apa kau tidak merindukan umma dan appa, Hyungie?"



"Ania," jawab namja yang telah mengganti warna rambutnya menjadi hitam kecoklatan itu. Leeteuk menarik ujung bibirnya, ia tahu Hyungnya berbohong.



"Tapi ternyata tinggal di bumi tidak seburuk yang aku pikirkan, Hyungie. Mereka sangat baik, bersahabat dan juga gila. Hahaha.... apalagi Chullie. Oh! anak ikan yang bernama Donghae juga akan beraksi kalau berdekatan dengan anak teri Eunhyuk. Terus ada Kyu si evil, Yesung si Appa Ddangko brother yang hobi dance ubur-ubur. Ehmm...siapa lagi ya? Ahh, Kangin yang bertubuh gempal itu juga tidak kalah heboh," cerocos namja berambut hitam itu dengan semangat. 

"Manusia tidak bisa ditebak. Terkadang apa yang terlihat bukanlah yang sebenarnya, begitu pun sebaliknya. Mereka semua palsu sebelum topengnya dilepas. Kangin... aku tidak suka padanya," jelas Jungsoo yang mulai menikmati makan malam itu.



"Waeyo?" tanya Leeteuk heran. Jungsoo tidak menjawabnya.



Well, sepertinya semenjak mereka tinggal di bumi, keadaan mereka mulai membaik. Tidak ada lagi pertengkaran karena namja usil berambut hitam itu mendadak sembuh dari 'penyakitnya'. Leeteuk yang selalu membuat Hyungnya naik pitam karena kejahilannya yang terkadang melampaui batas, kini berubah sejak mereka tinggal di bumi.



Kegiatan baru mereka sebagai manusia membuat Leeteuk melupakan masa- masa yang menyenangkan baginya. Saat menjadi malaikat dulu, ia selalu mengekor dengan hyungnya karena mereka tidak mempunyai teman sebaya di sana. Jungsoo sendiri tidak mempermasalahkannya, tentu saja karena mereka kembar dan saling terikat tanpa batasan.


TBC..!!!
Thanks to read and everything that u give me #bow
Ada berkenan absen?? :D

Minggu, 16 September 2012

FF YunJae// YAOI// Mr. Ferocious// CHAP 2

Mobil memasuki perumahan elit yang hanya dihuni oleh konglomerat atas dan juga petinggi negara. Kompleks itu adalah milik keluarga Kim.

Pagar tinggi nan kokoh terbuka otomatis, volvo hitam itu melaju perlahan ke dalam melalui taman. Di sepanjang kiri kanan taman itu terdapat patung-patung ksatria Yunani yang seakan menjadi penjaga penghuni istana itu. Sangat asri dengan pohon-pohon yang menaungi halaman.

Mobil melewati kolam dengan pancuran putri duyung yang mengeluarkan air melalui mulutnya. Mobil itu berhenti pada lobi.
Pilar berornamen Athena dewi perang membawa pedang menjulang tinggi menopang atap. Serba putih dengan Athena dan juga aneka senjata di sekeliling bangunan seakan membentengi penghuninya. Rumah itu benar-benar lebih mirip benteng.
Warna dominan hanya putihnya benteng, hijaunya taman dan juga merahnya mawar-mawar yang mengelilingi benteng itu.

Jaejoong keluar dari mobil dan langsung disambut beberapa maid yang berseragam merah maroon dikombinasi dengan putih.

"Selamat datang kembali, Tuan muda. Silahkan beristirahat! Kami sudah menyiapkan segalanya."

Jaejoong melangkah masuk menuju ruang dalam yang berventilasi tinggi. Ruang itu tak banyak pernak-pernik. Suasana lenggang begitu terasa, tak ada kehangatan lagi sejak enam tahun yang lalu.

"Senang melihat Tuan muda kembali," sapa Rain.

"Barang-barangku masih di hotel," Jaejoong menghempaskan tubuhnya ke sofa.

"Kami akan mengurusnya, Tuan muda. Bagaimana keadaan Anda?"

"Tidak terlalu baik. Perjalan kemarin membuat lelah, untung saja aku tidak langsung pulang, pinggangku bisa patah," gerutu Jaejoong sambil mempoutkan bibir cherry miliknya.

"Suatu ide yang bagus untuk langsung menuju hotel sepulang dari bandara."

"Eungh.. Bagaimana perkembangan situsku?"

"Hampir siap. Kami telah melakukan editing terakhir, data-data dari keluarganya pun sudah lengkap. Kami hanya menunggu persetujuan Tuan muda."

"Baiklah, tak perlu terlalu cepat. Aku ingin semuanya berjalan perlahan tanpa dia sadari."


Jaejoong bangkit dari sofa dan melangkahkan kakinya. Ia ingin istirahat di kamarnya. Saat menaiki tangga, ia melihat seorang namja seusianya dengan wajah angkuh menuruni tangga sambil bersenandung kecil. Jaejoong mendadak marah melihatnya.

"Bagaimana bisa anak haram ini tinggal di sini??" bentak Jaejoong saat ia berpapasan dengan namja itu. Namja yang dimaksud langsung berhenti sambil menatap Jaejoong panik, seketika wajah angkuhnya itu lenyap.

"Aku tidak sudi serumah dengan anak haram ini!"

Ajumma Min Hye kepala pelayan datang tergopoh-gopoh karena mendengar keributan itu.

"Jwesonghamnida, Tuan muda. Tapi ini perintah Tuan besar. Harap Tuan muda membicarakannya langsung kepada Tuan besar setelah beliau pulang," Ajumma itu tampak ketakutan.

"MWO..!! Menunggu?? Kau menyuruhku menunggu?? Sudah aku katakan, rumah ini tidak ada yang boleh tinggal di sini, apalagi dia! CEPAT USIR..!!! Rain!! Sudah kuperintahkan untuk melaporkan semua perkembangan di rumah ini, beraninya kau!!" Jaejoong benar-benar kesal.

"Jwesonghamnida. Ini atas perintah Tuan Besar langsung."

"SHITT!!" Jaejoong membalikkan tubuhnya, menatap tajam dengan penuh amarah ke arah namja yang ketakutan. "KAU!! TURUN SEKARANG JUGA!!" tudingnya.

Karam, namja yang dimaksud buru-buru menuruni tangga. Ia menunduk pucat. Jaejoong segera menghampiri dan mendorong kasar tubuhnya.

"Sejak kapan kau tinggal di sini, hah?! Tidak punya malu, eoh? Mana pelacur itu? Beraninya kalian bersekongkol untuk menipu appaku!"

Karam tidak berani menjawab. Ia mundur dan terus mundur. Jaejoong terus mengikutinya sambil menyentak-nyentakkan bahunya.

"APA MAUMU??!! BELUM CUKUP SEMUA HARTA YANG DIBERIKAN APPAKU, EOH??"

"Sudah Tuan muda, jangan bertengkar! Kalian saudara," Jaejoong berbalik, menatap ajumma Min Hye marah.

"Apa maksudnya? SAUDARA? Aku tidak sudi bersaudara dengan manusia hina seperti dia yang hidup dari satu pohon ke pohon lainnya, PA-RA-SIT!!"

"Jeongmal jwesonghamnida, Tuan Muda Jaejoong. Tuan besar telah menikahi nyonya Hye Jin dua tahun yang lalu," jelas Rain sambil membungkukkan badannya.

"MWO!!! Apa kau bilang? Jadi maksudmu dia... maksudmu appa beristri lagi?! dan KAU TIDAK MELAPORKAN KEPADAKU, HAH!!"

"Benar Tuan muda, maafkan saya menyembunyikan berita ini dari Tuan muda. Tuan besar langsung mengurus masalah ini, jadi ka...mi....."

"DIAM!!" Jaejoong menghampiri Karam, menarik napas panjang dan menahan amarah yang membuat giginya beradu.

"Hebat! Sangat hebat!" ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi Karam, "Kau dan Ummamu benar-benar hebat sekali."
Karam menepis tangan Jaejoong dan menghindar.

"Sekarang kita saudara, Jaejoong-ssi. Jangan seperti itu!" kata Karam takut-takut.

"Enam tahun aku tidak pulang, ternyata begitu banyak yang berubah. Kau dan ummamu telah memenangkan sedikit permainan ini, tapi aku yakin kalian tak akan bertahan lama." Jaejoong menyeringai.

"Appamu yang memintanya. Lagipula mereka saling mencintai," kata Karam.

"Mencintai? Ciih, kau kira aku bodoh, hah? Dia hanya mencintai harta appaku." Jaejoong menarik kasar kerah kemeja Karam, "Rumah ini penuh cinta sebelum kalian datang!! Kau pasti tidak senang aku pulang, bukan? Bahkan kau juga berharap aku mati di sana, bukan? Jangan harap," Jaejoong melepaskan cengkeramannya sambil menyentak, "Aku tidak akan mati! Meskipun kalian harus membunuhku beratus-ratus kali, aku tidak akan mati! Aku akan tetap hidup untuk menarik paksa urat nadi kalian satu per satu agar kalian tahu apa itu rasa sakit!!!" Jaejoong menuju pintu keluar.

"Aku tidak mau dia ada di sini. Jika aku pulang malam nanti dan dia masih di sini, kalian tahu apa akibatnya!"

"Tapi Tuan muda, kami tidak berani. Ini perintah Tuan besar."

"Jika kau terus menerus mengatakan ini perintah Tuan besar, akan ku kirim kau ke Paris mengikuti jejak Tuan besarmu itu! Ingat pesanku tadi!!" Jaejoong melirik Karam tajam.

"Jika kau ingin selamat, cepat pergi dari sini! Aku tidak main-main. Kau tahu aku pernah hampir membunuh orang, bagiku tak masalah jika harus ku ulangi lagi."

Jaejoong menuju mobil yang terparkir di teras. Kemarahan menyentak kepalanya.

"Bawa aku ke tempat umma!"

____####___

Mobil berhenti di deretan pemakaman yang sangat luas yang hijau. Pemakaman itu bukan tempat pemakaman umum, tak heran jika tempat itu sangat terawat. Suasana puncak begitu sejuk pada saat hari mulai petang itu.
 Jaejoong turun dari mobil sambil menebarkan pandangannya pada bukit hijau yang sedang berkabut. Ia mengikuti sopir menaiki tangga setapak dengan hati-hati.

"Siapa saja yang pernah kemari...??"

"Hanya Tuan besar saja, Tuan muda," jawab sopir itu sambil terus menaiki tangga. Jaejoong tak menyahut.

"Masih jauh?" tanya Jaejoong. Ia terus mengikuti sopir itu berjalan di jalan setapak menaiki tangga-tangga batu di tengah hamparan rumput. Udara sore itu mulai dingin. Matahari memerah di ufuk barat.

"Tidak jauh lagi, Tuan muda." Jaejoong menghela napas, 'Aku baru tahu...'

Jaejoong berhenti pada sebuah rumah kaca, penuh dengan berbagai tanaman bunga yang semerbak harumnya begitu Jaejoong masuk setelah sopirnya membukakan pintu rumah kaca yang lumayan besar.

"Silahkan, Tuan muda."

Jaejoong mendekati gundukan berkeramik di tengah-tengah rumah kaca itu. Diremasnya buket bunga yang ada di situ, bulu kuduknya meremang.

"Umma.... aku....," ia terduduk di depan makam. Tangannya terulur mengelus foto hitam putih dengan wajah yeoja tengah baya yang sedang tersenyum cantik. Kim Heechul, nama yang terpahat di nisan itu.

"Umma... mianhae. Jeongmal mianhae Umma...," Jaejoong semakin menundukkan kepalanya sambil menahan sesuatu.

"Mianhae Umma, untuk semua kesalahanku. Aku baru pulang sekarang, menjenguk Umma."

Jaejoong berusaha menahan tangisnya. Ia memang tidak pernah menangis lagi, hampir enam tahun. Kepalanya bagai ditusuk paku besar dari arah kiri dan kanan, menyentak otaknya. Memaksa mengeluarkan sesuatu yang tak ingin lagi dikenangnya. Sepertinya untuk kali ini pertahanan kokoh yang ia bangun akan hancur juga.

.: Jaejoong pov :.

"Lulus!! Kita lulus!! Jaejoong-ah ayo kita rayakan, yaaa..."

Lalu, "Yeey, liburan ke villa Jaejoong... Kita-kita saja, jangan ramai-ramai,"

Malam yang menghancurkan semuanya. Tidak. Bukan malam, tapi aku. Ya, aku.

"Ayolah Jae, ini untuk kenang-kenangan kita. Ini dokumentasi pribadi kita. Setelah ini, kita sudah SMA, kita akan tumbuh. Jadi tidak salah kan kita mempunyai kenang-kenangan body kita saat masih SMP, masih rata. Hahahhaha....."

Kilatan lampu malam itu, enam tahun yang lalu berubah menjadi ratusan kilatan yang menghujamku dari berbagai arah. Semua orang tahu. Semua orang melihat. Aku percaya semua orang di seluruh polosok negeri ini tahu. Aku malu. Sangat memalukan!!

"MEMALUKAN!! SUNGGUH MEMALUKAN!! KAU SUDAH GILA, JAE!!"

Ahjussi Young Min memang tidak pernah menamparku atau memukulku, meski aku pantas mendapatkannya. Setelah detik itu, semuanya bagai mati. Aku seperti ditelanjangi. Aku memang sudah ditelanjangi.

"Ahjussi akan mengurus semuanya, termasuk namja tak tahu malu yang bersamamu itu!!! Sebaiknya kau menjenguk Ummamu, hari ini dia masuk rumah sakit karena serangan jantung. Mianhae Jae, Ahjussi tidak bisa menyembunyikan kasus ini semuanya. Dia melihat foto-fotonya dari cuplikan situs itu. Appamu akan kemari sore nanti."

Semua menjadi keruh. Keruh, sekeruh-keruhnya pikiranku. Noda, senoda-nodanya aku. Meskipun aku tidak melakukan 'itu'

"Umma.... aniyo Umma, bukan film. Joongie tidak main film porno, Umma.... Hiks...hiks... Joongie tidak main film... huhuhuhu... Tidak Umma... UMMAAAA..."

"Film itu...hhh... Joongie..."

"Joongie tidak main film, Umma.... Tidak... Joongie kena situs, Umma.... di situs, bukan di film.... huhuhu... Joongie minta maaf, Umma. Joongie janji akan menuruti semua kata Umma, Joongie janji, Umma...huhuhuhu... janji..."

"Hhhh..... mengapa film..."

Tarikan napasnya begitu berat. Aku tidak tahu berapa detik untuk satu tarikan napas. Tapi aku tahu Ummaku sekarat.

"ANDWAE!!! Joongie tidak mau pergi!!! SHIREO!!! Lepaskan!!! Lepaskaaan!!! Joongie mau lihat Umma!!! Joongie mau menemani Umma..!!! Lepaskan!!! AAARGH!!! LEPASKAAAAN!!!'''

"Ahjussi sudah mengurus semuanya! Kau tinggal berangkat sekarang juga! Jangan kembali sebelum semuanya reda. Keluarga Kim sedang disorot! Satu lagi pesan Ahjussi, JANGAN BERHUBUNGAN DENGAN RAKYAT JELATA LAGI!!"

Aku pergi saat itu juga. Tapi tidak hanya aku saja yang pergi.

"Joongie... Maafkan Appa...hhh... Ummamu... Dia sudah damai di sisiNYA."

"ANDWAEEEE...!! JOONGIE MAU PULANG!! JOONGIE... MAU PULANG..!!! ANDWAE UMMA..!!! AAARGH... Huhuhu.. UMMA!!!"

Kata orang, aku adalah pembunuh. ANI, Aku bukan pembunuh!! Tapi, mereka bilang aku penyebab kematian Umma. Aku membunuh Umma. Tidak. Aku tidak pernah membunuh Ummaku sendiri!!
Lalu aku hanya mendengar ceritanya. Aku bahkan tidak mengantar Umma ke peristirahatan terakhir. Aku tidak melihat detik-detik terakhirnya. Aku tidak melihat nisannya. Aku tidak melihat apa-apa.

Sejak detik itu, aku tidak pernah pulang. Aku tak ingin pulang. Aku hanya akan pulang untuk menuntut balas. Hutang nyawa bayar nyawa! Aku tak percaya siapapun juga!
Tidak yang hidup! Tidak juga yang berkuasa!

"Tuan, Tuan muda... sudah malam. Bangun Tuan muda! Sudah malam... Tuan muda Jae...."

Jaejoong pov End

______####______

Setibanya di rumah, Jaejoong melihat Young Min duduk di beranda. Namja paruh baya dengan perawakan tinggi, tegap dan tampak berwibawa.

"Welcome home, jaejoong. Baru pulang dari pemakaman?" Jaejoong membuang muka. "Anak keras kepala, sifatmu semakin jelek saja."

"Aku lelah dan mau tidur. Apa yang kau lakukan di sini?"

"Panggil Ahjussi, Jae! Orang tuamu tidak mendidikmu untuk menjadi anak yang tidak tahu sopan santun. Apalagi Ahjussi."

Jaejoong tidak peduli, ia masuk ke dalam rumah yang langsung disambut beberapa maid.

"Apa mereka sudah pergi?" Pelayan yang ditanya tidak berani menjawab.

"Ahjussi tidak mengizinkannya pergi, Jae." Jaejoong menoleh.

"Tidak? Wae?" Young Min menggeleng.

"Mereka saudaramu. Appamu menikahi ibunya dua tahun yang lalu, jadi dia berhak tinggal di sini. Kau juga harus memanggil ibunya, Umma."

"Aku bilang usir mereka dari rumahku!!"

"Ahjussi yang mengurus semua yang ada di sini dan memastikan semuanya berjalan dengan baik! Ahjussi bahkan harus mengurus keponakan bandel yang kurang ajar, sombong dan angkuh! Ahjussi tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, Jae. Tidak, kecuali pandangan sinis dan sikap tanpa sopan santunmu!"

"Ahjussi tidak perlu repot-repot mengurusku! Sekarang Ahjussi boleh mengurus keluarga Ahjussi sendiri karena aku sudah pulang! Semua yang ada di sini adalah urusanku!!" Jaejoong tak mau kalah. "Oops! Aku lupa Ahjussi tak punya keluarga." Jaejoong pura-pura polos.

"Jaejoong!! Ahjussi tidak mendidikmu untuk tidak sopan terhadap orang tua!"

"Dari dulu aku tidak pernah menyuruhmu untuk mencampuri urusanku! Aku bisa mengurus diriku sendiri!

"Mengurus dirimu sendiri? Lihat apa yang telah kau lakukan pada dirimu sendiri! Jika bukan karena Ahjussi, kau sudah terkurung di pusat rehabilitasi itu, bahkan saat ini pun kau belum boleh keluar! Kau sudah hancur! Semua tulang yang ada di tubuhmu sekarang sudah tak layak pakai dan juga di setiap tubuhmu tertanam baut. Mau jadi apa kau?! Kau pikir bertindak seenaknya itu hebat? Kau adalah pewaris tunggal keluarga Kim! Jika kau tidak bisa menjaga citra dirimu, keluarga ini akan tamat riwayatnya di tanganmu!!"

"Keturanan Kim bukanlah suatu kebanggaan bagiku! Aku ingin menjadi apa yang aku inginkan!" seru Jaejoong tak mau kalah.

"Menjadi manusia tak berguna? Peminum, pemabuk, balapan liar seperti hantu jalanan, lalu mati di usia 22 tahun? Kau pikir kebodohan yang kau lakukan itu sanggup membuatmu hidup hingga hari ini? Jika bukan karena Ahjussi, kau sudah lama mati menyusul Ummamu!!"

"JANGAN BAWA- BAWA UMMAKU!!!" bentak Jaejoong marah. Young Min menarik napas panjang.

"Ummamu pasti kecewa karena kau sama sekali tidak menggunakan otakmu dalam bertindak." Young Min menuju serambi, " Pikirkan dengan otakmu, rasakan dengan hatimu. Jangan menuruti emosi. Jangan mengikuti ego. Jika kau ikuti semua itu, Kau tidak akan merasa damai seumur hidupmu. Ahjussi akan datang lagi besok. Istirahatlah!"

Jaejoong terdiam, 'Tanpa dia, mungkin aku sudah lama mati. Tapi aku tidak membutuhkannya lagi!!'

________#####_______

Jaejoong menunggu lift, ketika pintu lift terbuka dan keluarlah Taecyeon and the gank. Mereka saling menatap. Wajah kaget mereka tidak dapat disembunyikan begitu melihat Jaejoong.

"Jaejoong..??" gumam Taecyeon. "Jae! Lama tidak bertemu, apa kabar?" senyum Taecyeon menutupi rasa kagetnya, ia mencoba bersikap hangat sambil mengulurkan tangannya. Jaejoong tidak menggubrisnya.

Melihat aura suram,... anak-anak gank itu meninggalkan Taecyeon berdua dengan Jaejoong. Alasan mereka adalah untuk memberi mereka privasi, atau mungkin karena errr.... takut.

"Tadinya aku tidak percaya kalau kau di sini, ternyata berita itu benar. Kapan kau kembali, Jae?" basa-basi Taecyeon.

"Aku sama sekali tak berminat bertegur sapa dengan orang-orang sepertimu, karena orang-orang sepertimu hanya datang untuk mengambil keuntungan dari penderitaan seseorang. Sungguh tak pantas diberi muka." Taecyeon melongo. Spechless.

TING!!!

Pintu lift terbuka, Jaejoong beranjak masuk.

"Satu lagi, Kau sungguh sial kali ini karena bertemu denganku!"

________#####_______

Jaejoong menaiki serambi depan, tertegun sejenak ketika Karam keluar dari rumah dengan seorang namja. Mereka bertatapan sebentar. Jaejoong menatap tajam tak suka.

"Eh, kenalkan ini.... Jay," kata Karam, "Jay, ini Jaejoong."

Jay mengulurkan tangannya, tapi Jaejoong tak membalasnya.

"Aku akan keluar, Jae." Karam buru-buru menarik lengan Jay.

"Aku tidak suka ada orang baru yang berlalu-lalang di rumahku!"

"Jay hanya menjemputku, Jae. Apa itu tidak boleh?"

"Bukan urusanku!" Karam mulai kesal. "Jangan datang lagi!" tegas Jaejoong tak ingin dibantah.

"Kau keterlaluan! Dia hanya datang menjemputku! Apa itu tidak boleh??" Jaejoong tak peduli. "Dia tamuku! Aku juga berhak atas rumah ini!!"

"Ulangi sekali lagi kalimat terakhir!!" Jaejoong menghampiri Karam.

"Jaejoong, sudahlah. Tak perlu bertengkar di sini," lerai Jay.

"Jangan ikut campur!" bentak Jaejoong.

Beberapa maid berhamburan keluar, memandang mereka dengan wajah khawatir.

"Tuan muda... Tuan Jaejoong jangan bertengkar, Tuan....," lerai Min Hye ajumma, kepala maid.

"Ulang sekali lagi apa yang baru saja kau katakan! Katakan sekali lagi kalau kau berhak atas rumah ini!! Dasar tak punya malu! Kau hanya menumpang di sini, atas jasa Ummamu yang merayu Appaku, ARA!!! Dasar parasit!!"

"Kau yang brengs*k!! Kau tidak mengakui pernikahan Ummaku yang telah dijerat Appamu!!" Kali ini Karam menantangnya.

"Kau dan Ummamu telah menghancurkan keluargaku!!! Seharusnya kubunuh kalian dari dari dulu!! DASAR MANUSIA RENDAH!!!"

"Appamu yang merengek-rengek pada Ummaku!! Kau pikir hanya keluarga ini yang hebat? Kaya? Kalau bukan karena Appamu, Ummaku juga akan menikah dengan orang yang tak kalah hebat dengan Appamu!!"

"Kau pikir kau juga hebat, huh!! Karam, aku daftar setumpuk kejelekanmu dan Ummamu, tak perlu akting di depanku!!"

"Perlihatkan ke Appamu, supaya penyakitnya kambuh!!" tantang Karam geram. "Kau lebih brengs*k, Jae! Aku memang bebas! Suka cafe, gila diskotik, hobi mabuk, teler! Tapi AKU TIDAK MEMBUNUH UMMAKU SENDIRI!!!!

BUUUGGH..!!!

Kemarahan Jaejoong dilepaskan ke Jay. Ia terhuyung ke belakang sambil memegangi pipinya yang terasa panas.

"Uuuggh..." erangnya kesakitan.

"Brengs*k kau, Jae!" maki Karam sambil memegang kekasihnya.

"JANGAN SEBUT-SEBUT UMMAKU!" bentak Jaejoong marah. "PERGI KALIAN!!"

Meskipun kesal, Karam dan Jay berlalu. Terdengar berbagai sumpah serapah yang Karam tujukan kepada Jaejoong.

Jaejoong mengepalkan tangannya, jari jemarinya saling beradu. Ia marah, sangat marah. Satu hal yang sangat sensitif jika seseorang menyangkutkan dengan Ummanya dan juga masa lalunya.

"Mana Rain?!" tanya Jaejoong pada maid.

"Per-gi, Tuan muda.... belum pulang," jawab maid itu dengan takut-takut.

"Suruh ke kamarku nanti!!"

_________#####_________

"Bagaimana perkembangan situsku?" tanya Jaejoong pada Rain, ia sedang duduk di serambi kamarnya yang menghadap taman.

"Sudah siap, Tuan muda Jaejoong. Tinggal menunggu perintah dari Anda, maka akan saya publish."

"Publish besok. Kabari aku kalau kuliah yang sebenarnya sudah dimulai. Ahhh... satu lagi, aku ingin sekelas dengan anak yang bernama Junsu. Atur semuanya, pastikan semua perkuliahanku sama dengannya."

"Junsu? Maaf Tuan muda, apa ada nama lengkapnya?"

"Hanya itu. Ehm, dia anak baru juga, untuk ukuran namja dia lumayan eeerr... imut." Jaejoong mengatakan 'imut' dengan amat lirih.

Rain menarik ujung bibirnya. Heran sekaligus senang mendengar majikannya berani memuji orang.

"Aku juga ingin data-datanya."

"Baik Tuan muda. Ada hal lain yang perlu saya selidiki?"

"Tidak. Aku hanya perlu data-data namja itu. Kau boleh pergi."

Rain mengangguk dan segera berlalu. Jaejoong menegak minuman dinginnya, wajahnya terlihat amat senang.

'Situs.... Aku tak sabar ingin melihat reaksinya...'

Jaejoong kembali tersenyum penuh arti. Entah apa yang ia pikirkan. Hanya dia yang tahu.


TBC...
.

FF YunJae// YAOI// Mr. Ferocious// CHAP 1 Part 2 End

Cuuurrrrr.....

Jaejoong menarik ujung kran westafel, kemudian membasuh tangannya sambil terus mengamati namja di sebelahnya yang sedang berdandan.

"Yak! Kurang kerjaan, eoh? Kenapa, mau dandan juga??" bentak namja itu kesal.
"Kenapa ribut-ribut?? Bicara sama siapa?" tanya temannya yang baru keluar dari kamar kecil.
"Dia, dari tadi lihatin aku dandan terus," adu namja itu sambil mengibas-ibaskan tangannya. Baek Ho, namja yang keluar dari kamar kecil tadi mencibir sambil melirik Jaejoong.
"Biarkan saja, dia hanya iri dengan kita. Liat aja muka yang pucat itu, sudah seperti mayat hidup. Cari obyek lain yang bisa dipelototin!" cerocos Baek Ho.

Jaejoong tidak menyahut, ia terus mengamati dua namja tadi dari pantulan cermin.

"Aku kasih tahu, ya. Ini namanya make up!" Giliran Ren yang mengomel gemas.
"Eungg... apa ada pentas topeng monyet di sini?" ledek Jaejoong.
"Pentas? Hah! Eh, kurang ajar, berani dengan kita, eoh?" hardik Ren.
"YA! Kamu anak baru jangan macam-macam dengan kita! Tidak tahu siapa kita 'kan?" sambung Baek Ho.
"Kau pasti pemeran utamanya," jawab Jaejoong yang langsung keluar dari kamar mandi dengan cuek.
"MWO!!! YA!! Tunggu, jangan kabur!" teriak Baek Ho kesal sambil mengejar Jaejoong. Buru-buru Ren mengemas make up-nya.
"Changmin!!" panggil Baek Ho. Kebetulan orang yang dipanggilnya akan masuk ke toilet.
"Dia cari gara-gara, dia ngehina Ren. Katanya Ren topeng monyet," adunya.
"Masa namjachingumu dibilang mirip monyet, sih? Menurutku sih tidak mirip. Tapi anak kampungan itu dari tadi liatin Ren  dandan, jadinya kita gerah... terus dia......"
"Bisa diam?" tanya Changmin dingin dan langsung membuat Baek Ho bungkam.

Changmin mengamati Jaejoong yang berlalu cuek. Melihat Changmin tak berkomentar lagi, Ren berteriak.

"Dasar pengecut! Takut ya? Baru tahu 'kan berhadapan dengan siapa! Makanya jangan sok!"
Mendengar itu, Jaejoong menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Menatap tajam ke arah mereka bertiga, terutama Changmin yang berbadan tinggi melebihi tinggi badannya, tampan namun berwajah kekanakkan, atletis, maskulin, trendi, dan.... dandy. Rambut hitamnya juga di-spike pada bagian poni, seperti milik Jaejoong.
Namja cantik itu melengos acuh.

"Dia yang sudah menghina aku, Chagi. Menyebalkan sekali. Beri pelajaran, Chagi!" Changmin menatap Jaejoong seksama.
"Biarkan saja. Dia memang tidak terawat," cuek Changmin. " Dia hanya iri padamu," lanjutnya sinis.
"Iri? Sama topeng monyet? Hahahaha......" Tawa Jaejoong meledak seketika.
"Namjachingumu saja yang kepedean. Tadinya kupikir dia keracunan. Tapi setelah aku amati ternyata hanya lipstick ungu. Hampir saja kusiram air untuk pertolongan pertama."

Ren semakin memerah. Baek Ho terkikik geli di belakang punggung Changmin. Memang benar yang dikatakan Jaejoong, saat itu Ren memakai lipstick ungu muda. Membuat siapapun yang melihatnya akan mengira ia sedang keracunan.

Changmin hanya diam. Ia melirik Ren.
'Ckck, memang benar juga yang dia katakan, hhuft... Kenapa dia centil sekali, sih?' batinnya.

"Minnie~ah, kenapa diam? Masa kalah sama dia? Payah, harusnya kamu membelaku. Harga diriku dilecehkan, itu sama saja melecehkanmu!" protes Ren.
"Diam!!" bentak Changmin kesal.
"Mwo! Berani membentakku, eoh? Minta putus? Oke, putus saja!"

Ren terus saja berteriak. Changmin pergi begitu saja tanpa mempedulikan namjachingunya itu.
Jaejoong menyeringai puas. Kemudian ia pun meninggalkan dua tokoh topeng monyet yang masih berceloteh.

_________#####_________

Pulang kuliah Jaejoong dijemput sopir pribadi yang sudah menunggu di parkiran khusus mobil rektor.

"Mulai besok jangan parkir di sini lagi! Ini khusus parkir rektor," tegur petugas parkir ketika Jaejoong hendak masuk mobil.
"Mulai besok aku parkir di sini!" bantah Jaejoong.
"Anda mahasiswa jadi harus mentaati peraturan. Mahasiswa parkirnya di situ," tunjuk petugas parkir rektor tak ingin kalah.
"Kalau masih ingin menjadi petugas parkir, Jangan membantahku!"
"Ini tanggung jawab saya, Anda harus mentaati aturan di sini. Kalau rektor kepala tahu, Anda bisa di Drop Out. Dipecat jadi mahasiswa!" ancam petugas parkir itu.

Braaakk...!!!

Jaejoong masuk ke dalam mobil dengan membanting pintu mobil kesal. Ia menatap tajam ke arah sopir yang ada di depannya.
"Telpon Rain!!! Suruh dia untuk memecat rakyat jelata itu!"
Sopir itu langsung melaksanakan perintah sang majikan.
Jaejoong membuang pandangannya pada jalan-jalan yang sedang macet itu.
.
.
.
.
Chapter 1 END...
TBC...

Thank a lot have red this.. :D
.

FF YunJae// YAOI// Mr. Ferocious// Chap 1 Part 1

CHAPTER 1

Tittle :: Mr. Ferocious
Genre :: Nano-Nano *Plaaakk*
Cast :: Kim Jaejoong, Park YooChun, Shim Changmin, others
WARNING :: => Amburadul, berantakan, EYD ancur, Typos berhamburan, Jelek, Garing kayak Maicih, Alur lelet kyk Ddangko, GA BANGET...!!! #ngumpet d kolong#
=> Kritik, Saran, Flame, Bashing dan lainnya aku TERIMA, asal untuk perbaikan ^0^
=> Last, ini fict pertama yg aku post. Ga pede juga sebenernya. Gggrh.. jadi mian ne kalo menimbulkan efek samping mules2 =,=
  .: Inspirated/sanduran by Miss Jutek Novel :.

Well, Hope u like it... ^^


Paris, di sebuah Mansion

"Semuanya sudah disiapkan, Tuan muda. Mobil sudah menunggu, Anda tinggal berangkat."
"Yakin? Tak ada yang ketinggalan, Rain?"
"Yakin sekali, Tuan muda. Semuanya sudah saya siapkan termasuk pesanan pribadi Anda."

Namja muda yang berdiri di depan jendela itu diam. Ia menebarkan pandangan pada gedung-gedung megah di depan matanya dengan tatapan dingin.

'Paris... ahhh, aku sudah sangat bosan hidup di sini.'

Kemudian ia beranjak meninggalkan tempat berdirinya, berjalan tegap menuju pintu. Rain, tangan kanan pribadi Jaejoong itu menundukkan sedikit tubuhnya ketika dilewati Jaejoong. Di luar, beberapa orang pengawal berpakaian serba hitam membukakan pintu mansion elit itu, mengawalnya hingga ia masuk ke dalam mobil.
Jaejoong masuk tanpa sepatah kata pun. Bibir cherry miliknya terkatup rapat, pikirannya melayang liar dengan dada bergemuruh.

'Hutang itu telah berbunga berkali-kali lipat...'

__________####__________

Yoochun menarik napas panjang untuk kesekian kalinya. Ia kesal karena harus menunggu dan juga waktu tidurnya harus kepotong. Hampir dua jam ia menunggu.
Pagi-pagi tadi ia dipanggil oleh rektor kepala untuk membicarakan sesuatu. Tapi apa yang ia dapatkan? Duduk menunggu tanpa kepastian. Padahal matanya menginginkan untuk dipejamkan lagi.

Beberapa menit kemudian, pintu rektor terbuka. Yoochun segera mengatur duduknya, membusungkan dadanya agar terliat tegap.

"Tentu saya akan mengaturnya. Jangan khawatir," ucap rektor kepala sopan kepada seorang pria yang bertampang dingin, ia menggunakan jas serba hitam dan juga kacamata hitam yang langsung pergi.
Yoochun menatapnya hingga ia menghilang dari pandangannya.

'Siapa itu? Sepertinya orang penting'

"Yoochun! Kemarilah, cepat!" Sifat ramah rektor itu langsung berubah.
Yoochun bangkit dari duduknya dan mengikuti rektor itu.

"Apa maksudnya? Jadi saya harus menjaga siapa itu tadi? Jaejoon, Jaejeong..."
"Jaejoong," jawab rektor itu membenarkan.
"Itu tidak mungkin, Sonsaengnim. Bukankah semua mahasiswa baru harus di-ospek? Selama ini kita tidak membeda-bedakan status dan golongan!" protes Yoochun.
"Aku tahu, selama ini kau adalah ketua senat mahasiswa yang disiplin. Tapi, kali ini universitas kita akan mendapatkan mahasiswa baru yang benar-benar khusus. Sudah kujelaskan tadi. Kim Jaejoong harus mendapatkan perlakuan khusus, karena dia bukan orang sembarangan!"
"Bukankah selama ini Seonsaengnim selalu disiplin dan keras dalam menegakkan peraturan, tapi..."
Yoochun menghela napas panjang.
"Maaf, saya tidak dapat menerima tugas ini, Sonsaengnim. Saya bahkan tidak kenal dengan Kim Jaejoong.... dan apa hubungannya dengan multimilioner Kim Siwon itu?" lanjut Yoochun.
"Putranya." sahut rektor itu cepat.
"MWO!!" Yoochun membelalak, mulutnya ber-O ria.
"Putranya, Yoochun. Karena itu, kamu harus menjaganya." Rektor itu bangkit dari kursi kebesarannya.
"Dengar, Yoochun! Anak ini tidak hanya mampu membeli universitas ini. Tapi ia juga mampu membeli semua karyawan berikut mahasiswa-mahasiswa di sini. Termasuk kamu, kakek nenekmu, umma appamu, kakak adikmu, saudara-saudaramu, tetanggamu atau siapa pun lagi. Saya ulangi sekali lagi, mem-be-li !!" tegasnya. Tatapan itu berbau materialistis.

Yoochun terduduk lemas. Ia meremas kepalanya yang terasa berdenyut.

'Mimpi apa aku semalam?' batinnya.

___________#####_____________

Suasana menegangkan begitu terasa di lapangan Universitas Inha. Kumpulan calon mahasiswa sedang mengikuti kegiatan 'pembantaian'. Mereka semua ketakutan, harap-harap cemas menanti nasib apa yang mereka dapatkan nantinya. Tapi cuma satu harapan mereka semua, selamat dari hukuman. Mereka tidak ingin seperti salah satu murid yang sedang mengitari lapangan super luas itu dengan melompat seperti katak.Sudah sejak sejam yang lalu, ia terus melompat-lompat. Ada juga yang mahasiswa yang memanjat pohon sambil terus berteriak memohon ampun.Masih banyak lagi berbagai macam bentuk pembantaian lainnya.

Saat itu seorang namja berambut hitam dengan poni spike berjalan tegap dengan tatapan dingin. Ia melirik sekilas ke arah mahasiswa yang dihukum tadi. Ia menyeringai sinis dan kembali berjalan. Namja itu mengenakan kaos v-neck hitam lengan panjang yang memperlihatkan dada putihnya, kalung rantai dengan bandul cincin yang bertengger indah di leher jenjangnya, jeans hitam ketatnya juga terlihat begitu pas di kaki ramping itu, tak lupa dengan sepatu boot berwarna senada yang membuatnya begitu tampan dan manly. #Umma di Get Out MV ^^#
Yaah, meskipun tak dapat dipungkiri, jika wajah itu tetap memancarkan kecantikannya.

"Ya ya!! Liat, Siapa itu? Aku tidak pernah melihatnya." Yeoja dengan dandanan centil itu langsung berbinar-binar. "Sepertinya malam minggu besok aku tidak kesepian lagi," lanjutnya. Tak peduli lagi dengan tugasnya sekaligus kekasihnya yang kaget mendengar itu, ia menghampiri namja itu. Senat-senat yang lain langsung menoleh dan ikut menyusul.

"Ya!! Kau yang lewat, berhenti!" Tidak ada respon.
"Cih, sombong sekali dia. YA!! Berhenti kubilang!" teriak Seungri kesal. Ia berlari menghampiri namja cantik itu.
"Tuli, eoh? Di suruh berhenti malah jalan terus. Takut, hmm?" Jun Ki memegang bahu namja itu dan membaliknya paksa.
Tak suka disentuh, namja cantik itu menepuk pelan bahunya berusaha menghilangkan debu yang menempel karena sentuhan tadi.
"Takut?" Ia tersenyum sinis.
"Mahasiswa baru harus ikut ospek. Kau mau kabur, eoh? Jangan harap bisa kabur! Nama, angkatan, jurusan?!"
bentak Hyun Joon.

Jaejoong membuang muka, mendengus meremehkan.

"Ospek? Seperti itu?" Jaejoong melirik ke mahasiswa yang dihukum.
"Buang-buang waktuku saja!" Jaejoong melempar senyum mematikan ke arah yeoja centil tadi.
"Bukankah lebih baik waktuku kuhabiskan bersamamu, cantik? Siapa namamu?" Jaejoong menghampirinya.
"Yak!! Jangan macam-macam dengan kekasihku!" sahut Seungri.
"Jessica. Namaku Jessica," ucapnya dengan nada dibuat sebagus mungkin.
Yahh, meskipun lebih terdengar menjijikan.

Tak peduli dengan keadaan sekitar, Jaejoong menghampirinya. Dibelainya pipi putih yang terbungkus bedak tebal itu.

"Kau sangat cantik, Agassi. Tapi akan lebih pantas jika kau berada di Pinkers Bar," ucap Jaejoong dingin.
"Disana kau akan lebih dibutuhkan," lanjutnya masih dengan senyum mengerikan, kemudian ia membuang muka Jessica yang tadi sempat ia belai. (Pinkers Bar = tempat kupu-kupu malam)

Jessica yang kaget mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa diam.
Seungri tak terima kekasihnya dihina, menarik kasar tangan Jaejoong.
Ia melayangkan tinjunya tepat ke arah wajah Jaejoong. Tapi naas, ia hanya memukul udara kosong karena Jaejoong sangat gesit menghindari pukulan itu.

BUUUGGH..!!

Bogem mentah mendarat tepat mengenai rahang kiri Seungri. Jaejoong menyeringai puas.

Suara tepuk tangan dengan cepat menghiasi suasana tegang itu. Para mahasiswa yang tengah dijemur tadi, bersorak riang. Mereka senang karena dendam mereka terbalas secara tidak langsung.

Seungri menatap Jaejoong dengan tajam, ia hendak membalasnya. Namun......

"Berhentiiiiiiiii....!!!!" Mereka menoleh ke sumber suara, Yoochun berlari tersengal-sengal.
"Ada apa ini?" tanyanya. Ia melirik ke arah Seungri dan juga luka di ujung bibirnya, Jessica yang menangis dengan wajah merah padam menahan malu, dan juga semua senat yang ada disitu dengan wajah masam.
Belum lagi para mahasiswa yang meneriakkan berbagai macam kata untuk melecehkan para senat. Yoochun langsung tanggap kepada siapa semua itu ditujukan.

"Kau yang bikin keributan ini?" tanya Yoochun baik-baik.

Jaejoong tidak menyahut, ia malah mengamati Yoochun dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan, lalu ia membuang muka tidak peduli.

"Eh, aku bertanya padamu, siapa namamu?"
"Apa urusanmu tahu namaku? Dan apa untungnya aku memberitahumu, huh??!!" Yoochun menghela napas panjang.
"Oke, kita clear-in masalah ini. Aku tanya baik-baik, siapa namamu dan angkatan berapa? Kau anak baru, kan? Aku belum pernah melihatmu." Sabar Yoochun.
"Jaejoong. Kim Jaejoong!" Ia menatap tajam ke arah Yoochun.

Kasak-kusuk tentang nama itu, membuat para mahasiswa yang berkumpul segera membuat gosip versi masing-masing. Gosip tentang nama 'Kim'.

Mendengar nama itu, Yoochun tersentak, buru-buru membuang kagetnya.

"MWO!!! Kim Jaejeong?? Eehh... BUBAAAAAARR....!!!"
"Yak! Park Yoochun! Dia sudah mukul Seungri! Dia juga sudah menghina Jessica!" Lapor Jun Ki dongkol.
"Sudah, bubar saja! Sebelum ada yang datang," panik Yoochun
"Sejak kapan kau jadi pilih kasih, eoh?" Tuding Hyun Ki sebal.
"Bubar dulu! Nanti aku jelaskan, percayalah! Seungri-ah, gwaenchana?"

Seungri tidak menjawab. Ia membalikkan badan dan pergi begitu saja. Senat-senat lain pun mengikutinya. Mereka semua sebal, ditambah lagi dengan teriak-teriakkan mahasiswa baru yang mengejek. Ingin rasanya Seungri menghilangkan ingatan mereka semua tentang kejadian tadi. Sangat sangat memalukan.

"Dia tadi keren sekali. Ekspresinya itu benar-benar menarik. Keren!" Komentar Luna yang dari tadi diam saja dengan mata berbinar.
"Tapi menurutku dia cantik." sahut Hong Ki
"Diam kalian berdua!!" Bentak Seungri.
"Siapa sih dia?? Namja bukan yeoja juga bukan,"

__________#####__________

"Siapapun kamu, jangan membuat masalah di sini!" kata Yoochun
"Aku? Teman-temanmu yang membuat gara-gara denganku! Ciih..!!"
"Mereka hanya iseng, Jaejeong!"
"Jaejoong!" sahut Jaejoong membenarkan.
"Yoochun, Park Yoochun."
"Aku tidak tanya namamu!" Yoochun hanya meringis malu.
"Rektor bodoh itu salah memilih orang sepertimu untuk menjagaku. Kau tak perlu menjagaku!! Jaga dirimu sendiri saja masih tidak bisa!"
"Siapa yang mau menjagamu? Aku? hahahaha..." tawa Yoochun dengan lantang.
"Jangan main-main denganku atau kau akan menyesal!" ancam Jaejoong karena tidak suka ditertawakan. Kemudian, ia berlalu. Yoochun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menggaruknya walau tak gatal.
 /
___________####__________

Jam istirahat begini tentu saja hanya satu tujuan utama anak-anak Inha, Cafetaria.

" Ehmm... Body? Aku kasih 6,5, depan belakang rata semua. Nyam...nyam..." komentar Chansung di sela-sela acara makannya. "Muka 7 lah, tidak terlalu jelek," lanjutnya.
"Ckck, kebagusan 7. Itu muka keberatan make up. Aku kasih 6." protes Wooyoung.
"Kehitaman rambut 4. Nyam...nyam..."
"Itu dicat, Babo!!" Kali ini Junho ikut protes.

Segerombolan namja tengah asyik menilai setiap ada yeoja yang melintas di depan mereka.

"Tahun ini jelek-jelek, tidak menarik," rungut Jay.
"Tampangnya masih pada polos tapi manja," sambung Chansung.

Mereka terus saja berceloteh ria, sambil sesekali bersuit-suit untuk menggoda yeoja-yeoja di situ.

"Kemarin gimana, Tae? Ceritakan pada kami pengalamanmu itu!" Taecyeon yang dari tadi sibuk dengan makanannya, mendongakkan kepala menatap Wooyoung.

Ia tertawa kecil, lesung pipinya membuat tawa itu semakin manis.

"Benar-benar pengalaman tak terlupakan," jawabnya masih dengan senyum menghiasi bibir itu.
"Kau 'mendapatkannya', eoh??" timpal Junho penasaran.
"Yeah, I'd got it!"
"Yaaah.... kau memang rajanya, Tae."
Wooyoung kagum dengan namja maskulin itu. "Hye Jin 'kan bukan gadis yang mudah dirayu. Ckck, kau memang hebat, Tae. Beruntung sekali kau dapat yang sensasional seperti dia." Jay juga kagum pada sahabatnya itu, tapi juga iri. Terlihat dari cairan bening yang siap mengalir dari ujung bibirnya itu.

"Body 9, wajah 9, kulit 9, hanya rambut yang 5. Rambutnya mirip rambut jagung, merah."
Komen Chansung kembali menilai.
"YAK!! BABOYA? Itu rambut dicat, Chansung sayang! Sudah mulai buta warna, eoh?" sahut Wooyoung kesal sambil mengelus rambut Chansung yang masih 'memamah biak'.
"TAE...!! hhh... hh... hhhh.... Ada berit....aa. ba...ruu..." ucap Nichkhun tiba-tiba. Sepertinya ia habis maraton untuk menemui mereka.

Setelah duduk dan menyambar minuman yang entah milik siapa, ia langsung memasang wajah serius.

"Wae?? Sepertinya serius sekali," tanya Taecyeon tenang.
"Kalian tak akan percaya ini," Nichkhun diam sesaat. Menunggu reaksi teman-temannya itu, tapi sepertinya ia salah sangka. Mereka semua hanya diam menatap Nichkhun.
"Kalian masih masih ingat Jaejoong?"
"Jaejeong? Nugu?" tanya Jay.
"Aishh, bukan Jaejeong tapi Jaejoong. Ingat??" tanya Nichkhun.
"Jaejoong... Jaejoong... Ahh, Kim Jaejoong?" sahut Junho tanggap. Nichkhun menyeringai.
"Eungh... Jaejoong 'Situs'??" Giliran Wooyoung yang bertanya untuk memastikan.
"Yupz, kalian benar."
"Wae???" tanya Taecyeon tidak sabar.
"He's back." jawab Nichkhun singkat namun mengenai sasaran.
"MWOO..!!!!" Mereka terbelalak.
"Dia di sini. Aku tadi melihatnya di lapangan. Kalian tahu apa yang dia lakukan?" Mereka menggeleng.
"Dia mukul telak wajah Seungri hingga berdarah!"

Suasana tegang di bangku mereka itu begitu terasa. Taecyeon membenarkan posisi duduknya.
Tak bisa dipungkiri bahwa hatinya cemas mendengar itu.

"Dia benar-benar sudah berubah. Tidak seperti enam tahun yang lalu." lanjut Nichkhun.
"Kau tidak sedang akting bukan??" tanya Chansung yang sudah berhenti mengunyah. Nichkhun menggeleng mantap.
"Tae, aku rasa ini kabar buruk. Setelah enam tahun berlalu dan sekarang tiba-tiba datang ke kampus ini, aku rasa ada sesuatu."

Taecyeon tak bergeming mendengar Nichkhun. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Kedua tangannya saling meremas, tangan itu menopang wajahnya.
Sileut bayangan tentang kejadian itu terus berputar cepat seperti sebuah kaset yang diforward.
Kegelisahan mulai menghantuinya.

'Kenapa kemari? Kejadian itu sudah sangat lama. Ya, enam tahun telah berlalu. Kenapa sekarang?'

_____________######_____________

"Ya, benar. Dia memang Jaejoong putra tunggal Kim Siwon yang sering orang tafsir nilai kekayaannya," jelas Yoochun kepada senat-senat lain.
"Yang baru membeli saham perusahaan besar di Paris?" "Itu... yang punya properti Hilton Hill? Si raja properti itu?"
"Terus rumah yang minimal bernilai 5 M?? Hhiiii...." Jessica bergidik ngeri.
"Ne. Kalian semua benar. Dia mampu membeli apa saja, termasuk universitas tercinta ini, berikut pegawai-pegawai, siswa-siswa, dan semua penghuni di sini termasuk kalian semua!" Yoochun meng-copy ucapan rektor.
"Tapi Chun, kenapa dia milih universitas ini? Kenapa tidak di Dong Bang University yang memang tempatnya orang-orang elit seperti dia?" tanya Jun Ki pada Yoochun.
"Nan molla," jawabnya singkat.
"Untuk amannya, lebih baik kita tidak mencari gara-gara dengannya. Rektor saja takut padanya, kita jauhi saja dia. Dia benar-benar anak emas di kampus ini. Apapun kesalahannya, dia tetap benar." Warning Yoochun. Sesaat ia mimijit pelipisnya yang berkedut.
"Aku benci Jaejoong."
"Aku juga..."

TBC Chap 1 part 2..

This is My World © 2008 Template by:
SkinCorner