Selasa, 18 Desember 2012

FF HeeTeuk// YAOI// Bi // OneShoot


Tittle :: Bi
Cast :: HeeTeuk and others
Genre :: YAOI, romance (?) and others (males ngetik) #plakk
Warning :: EYD (Ejaan Yang Diinginkan) pas, typos, Boy x Boy, bad, freak, enggak banget, dll.
Desclaim :: Cast is not mine except LEETEUK XDD and this FF is MINE too.
Notes :: HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH TUHAN YME.






Suara gemuruh di langit malam Seoul terdengar begitu mengerikan. Angin yang berhembus juga tampak menggoyangkan dedaunan dan ranting pepohonan. Rintikan hujan yang turun, perlahan menjadi guyuran hujan deras seakan ditumpahkan langit. Banyak pejalan kaki mulai berlarian mencari tempat berteduh sambil mengumpat kesal. Meskipun banyak dari mereka yang membawa payung, namun itu tetap percuma karena hujannya terlalu lebat.

Seorang namja kecil berusia 10 tahun tengah berlari menyusuri jalan setapak yang ada di taman kompleks. Payung di tangannya tak sanggup melindungi sepenuhnya dari lebatnya hujan, untuk itu ia memutuskan untuk berteduh di sebuah gazebo yang ada di tempat tersebut.

"Ishh.. Ahjushi Jung kenapa lama sekali sih?!" kesal Heechul -nama bocah itu- sembari menggulung celananya dan menepuk-nepuk jaketnya yang sedikit basah.

Tak lama, namja itu menyipitkan matanya ketika menangkap sosok yang sedang duduk di bangku taman di tengah lebatnya hujan. Penasaran, ia pun memutuskan untuk menghampirinya meskipun sedikit takut oleh pikiran aneh-anehnya. Heechul kecil mengambil kembali payungnya yang tadi ia letakkan sembarangan di dekat tangga gazebo.

Perlahan kaki kecilnya berjalan semakin dekat dengan sosok bertubuh kecil yang tak beda jauh dengannya. Ia bisa melihat jelas tubuh anak itu ketika ia berdiri 1 meter dekat bocah yang basah kuyup itu. Wajah yang menengadah, mata yang terpejam, hidung kecil yang mancung, dan bibir tipis yang memerah karena dingin yang menyunggingkan senyum kecil. Ia bahkan dapat melihat sebuah lesung pipi kecil di ujung bibirnya karena namja itu tengah tersenyum bahagia menikmati guyuran hujan.

Merasa tidak diguyur hujan, kedua alis namja yang tengah duduk itu bertaut, namun matanya tetap terpejam. Ia pikir hujannya berhenti tiba-tiba. Tapi itu sangat aneh karena suara hujan lebat masih terdengar di telinganya. 

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Heechul lagi yang ternyata sudah mendekati namja itu dan memayunginya. 

Namja kecil tersebut refleks membuka matanya dan menatap payung yang menghalangi hujan. Ahh, sepertinya pikirannya tadi salah. 

"Apa yang kau lakukan?" tanya Heechul kembali karena tidak mendapat respon. 

Tersadar, namja itu menatap si pemilik suara yang masih berdiri di sebelahnya. "Aku? Hanya duduk. Wae?" balasnya sembari tersenyum manis dan menampakkan lesung pipinya. 

Heechul terpana sesaat. Jujur, ia gemas dengan senyum anak itu. Ia terlihat manis dan polos. 

JungSoo Heechul mengeluarkan smirk khasnya lalu mengambil ruang untuk duduk di samping namja itu. "Kau benar-benar aneh," gumamnya namun masih terdengar oleh namja berpipi chubby tersebut. 

"Hahaha.. Kenapa? Apa aku tidak boleh duduk di sini?" tanya bocah tersebut sembari menatap Heechul heran meskipun ia tertawa. 

Heechul terdiam sesaat, melihat tawa bocah lucu di sampingnya. "Tidak. Kau boleh duduk di mana saja. Maksudku aneh karena kau duduk di bawah guyuran hujan. Orang lain pasti sedang duduk di depan perapian dengan secangkir cokelat panas atau bergelung dengan selimut di kamar. Tapi kau..." Heechul tidak melanjutkan kata-katanya. 

"Aaa, jadi begitu. Aku sangat suka hujan makanya aku menikmatinya dengan cara begini. Jangan khawatir. Aku tidak akan sakit hanya karena ini. Mereka temanku, jadi mereka tidak akan membuatku sakit," tutur bocah yang basah kuyup itu. Ia menatap rumput di bawah kaki kecilnya dan mulai mengayunkan kakinya, bermain dengan air, eoh?

"Aigoo~ sekarang aku sangat yakin kalau kau semakin aneh. Lagipula siapa yang mengkhawatirkanmu?" Heechul ikut mengalihkan pandangannya ke bawah. "Eoh? Kau tidak memakai alas kaki juga?" lanjutnya menatap kaki kecil namja di sampingnya. 

"Ne. Ini juga bagian dari kesukaanku "  ^^ Heechul hanya geleng-geleng tak percaya. 

"Kenapa kau bisa di sini?" tanya namja kecil yang sedang mengusap wajahnya karena tetesan air dari rambutnya pada Heechul. 

"Aku menunggu jemputan di gazebo itu tadi. Tapi karena melihat sosok aneh makanya aku kemari untuk memastikan."

Namja kecil itu seketika tertawa. "Kau tahu, kau sudah tiga kali menyebutku aneh. Sekali lagi kau bilang begitu, aku akan memberi hadiah berupa payung ini," ucapnya terkekeh sembari menunjuk payung yang tengah Heechul pegang. 

 "Hey! Payung ini memang punyaku" kesal Heechul membuat teman barunya semakin tertawa. 

CTARRR!!

Suara kilat menambah melody alam yang diikuti cahaya berbentuk seperti akar pohon di langit. Membuat tempat itu menjadi terang sesaat. Dua namja kecil itu terdiam karena kaget. 

"Kajja~ kita harus pergi dari sini. Aku tidak mau mati konyol karena tersambar petir," ajak Heechul yang sudah memegang tangan dingin teman barunya dan menyeretnya begitu saja.

"Aah, tunggu. Jangan menarikku! Kakiku sakit," rengek namja itu kesakitan karena kakinya menginjak kerikil. 

Heechul tidak peduli. Ia tetap menarik namja itu ke luar taman dan berharap jemputannya telah datang. Ternyata memang benar. Ia menyeringai senang ketika melihat sopirnya yang baru saja keluar dari Volvo hitam. "Kau ikut denganku!" ajak Heechul atau lebih tepatnya memaksa. 

Namja yang diseret itu pun hanya pasrah karena ia sudah tidak bisa keluar dari mobil yang telah terkunci dan mulai merambat pelan. 

"Ahjushi, bawa aku ke tempat noona!" 

Heechul tampak antusias membawa kenalan barunya ke tempat favoritnya. Sedangkan namja yang tengah terbongong karena ulah Heechul itu tidak berkomentar apapun. Ia percaya bahwa Heechul adalah anak baik.

"Oh iya, siapa namamu? Kau belum memperkenalkan dirimu?" 

"Heechul. Kim Heechul." Heechul membuang pandangan ke luar jendela setelah memberitahu namja itu. 

Setibanya di tempat tujuan, kedua namja itu tampak menikmati hidangan masing yang telah disiapkan. Tentu saja setelah Heechul meminjamkan satu stel pakaian lengkap dengan sandal bulu bermotif donald duck.

Mereka di sebuah café bernuansa gothic milik noona-nya Heechul. Heechul mengamati teman kecilnya yang tampak mengedarkan pandangan ke berbagai penjuru ruangan. Matanya tampak berkilat kagum sekaligus heran dengan arsitektur bangunannya.

Namja kecil itu kagum dengan suasana café tersebut. Ketika melihat bentuk desain dan cat-nya yang berwarna hitam pink dari luar, ia pikir tempat itu menyeramkan karena pasti di dalam akan gelap dan ia tidak suka itu. Tapi, pikirannya salah. Suasana dalam café tidak gelap seperti dugaannya. Memang tidak terang juga. Sedikit redup namun terang pada bagian tiap meja. Di tiap sudut ruangan pun terdapat lebu halloween dengan berbagai ukuran.

Dindingnya bercat hitam dengan motif tembok retak yang menampilkan batu batanya. Pada bagian atas tembok, diberi motif darah yang seakan mengalir dan menetes ke bawah. Atap langit-langitnya pun terdapat gambar-gambar sarang laba-laba dan bintang icon spiderman itu tampak menggantung. Penyiar yang tebang dengan sapu terbang pun ikut menambah kesan gothic.

Namun, ada lagi yang membuat namja berlesung pipi itu kagum. Pelayan di sana mengenakan kostum gothic dan bermacam-macam kostum unik lainnya seperti red devil, white angel, black angel, dracula, dan masih banyak lagi. 

Malam itu, kedua namja kecil tersebut larut dalam perbincangan dengan ditemani hidangan cokelat panas dan tiramissu. Namun karena teman baru Heechul harus pulang, pembicaraan pun harus terhenti. 

"Chullie~ya, gomawo untuk semuanya ne. Besok aku usahakan kemari untuk mengembalikan ini semua." 

Heechul menatap satu stel pakaian, jaket dan sandal bulu yang sengaja ia pinjamkan tadi pada namja berlesung pipi itu. "Terserah," jawabnya singkat sembari tersenyum kecil. "Kau belum menyebutkan namamu."

Namja di hadapan Heechul terkekeh. "Kau yang tidak bertanya, bukan? Aku pulang, ne. Bye." Ia pun berlari menuju sebuah mobil di seberang jalan sebelum Heechul membuka mulutnya.

Heechul tampak kesal karena ditinggal pergi begitu saja. "Aish~ YAK!! KATAKAN SIAPA NAMAMU, BOCAH?!" 

"LEETEUK. PANGGIL AKU LEETEUK," teriaknya sebelum masuk mobil agar Heechul dapat mendengarnya. Setelah itu ia benar-benar menghilang di balik pintu mobil.

"Leeteuk,"gumam Heechul. "Namanya yang lucu." Senyum tipis pun kembali tersungging di bibir mungilnya.

♥•*¨*•.¸¸ Bi, 8 years later¸¸.•*¨*•♥   

Seorang namja berambut karemel tampak memejamkan matanya sembari tidur terlentang di bawah pohon willow dengan ditemani oleh suara musik instrumental yang mengalun lembut dari headphone putih miliknya. Tangan kanannya ia gunakan sebagai alas kepala. Tak berapa lama, kedua mata almond itu terbuka. Menatap gumpalan-gumpalan putih seperti permen kapas yang menggantung di hamparan langit biru. 

Suasana hari ini sangat sejuk. Tidak panas, tidak juga mendung namun berawan. Tapi bagi namja berlesung pipi itu, akan lebih baik jika gumpalan-gumpalan putih tersebut berubah menjadi gumpalan hitam dan menumpahkan air dari atas sana. 

"Apa mereka akan datang hari ini?" gumamnya lirih penuh harap. Kedua matanya pun kembali terpejam mencoba menikmati alunan melody lembut dari headphonenya.

Tak jauh dari tempat itu, namja berwajah angkuh tampak sedang duduk di bangku taman, asik menikmati pemandangan indah berupa ukiran Tuhan yang tersemat di sosok namja berambut karamel itu. Kedua mata tajamnya sampai tidak berkedip seakan ingin memakan sosok itu. Ya, itu sudah menjadi rutinitas wajib baginya untuk memata-matai namja yang tengah terpejam tak jauh dari tempatnya tersebut. 

"Ya ya ya! Awas liurmu sebentar lagi menetes, Hyung!" Seseorang yang tiba-tiba datang menepuk bahu sang spy. 

"Aishh! Dasar, Rakun! Mengganggu saja. Pergi sana!" usir Heechul pada temannya. Namun bukannya pergi seseorang yang dipanggil itu justru terkekeh pelan dan mengambil tempat di samping Heechul. 

"Tidak bosan-bosannya kau memata-matai orang aneh itu, Hyung. Apanya yang menarik, huh?" tanya Kangin. Kedua matanya menatap obyek yang menarik bagi Heechul. 

"Justru keanehannya itu yang membuatnya menarik. Aku penasaran dengannya. Setahun sekelas dia stay cool terus," jelas Heechul pada temannya yang lebih muda itu tanpa mengalihkan pandangannya.

"Ckck, apa hanya itu alasannya?" selidik Kangin. " Aku yakin ada alasan lain, Hyung." Kedua mata Kangin menyipit membuat alisnya bertaut. 

"YA! Apa maksudmu, eoh? Jangan bicara macam-macam, Rakun!" 

"A a, aku tahu dari tatapanmu, Hyung. Semua tercetak jelas di sini." Kangin mengetuk dahi Heechul. Membuat sang empu melotot kesal karena terintimidasi. 

"Apa maksudmu, Rakun? Katakan yang jelas! Aku benci bertele-tele." 

"Kau dengan namja bernama Park JungSoo itu..." ucap Kangin terputus. Ia menaikkan volume suara agak keras dan berdiri di hadapan Heechul yang memasang tampang kesal. Senyum evil terpahat di bibirnya. "KAU JATUH CINTA DENGANNYAAAA. Hahahaha..." 

Heechul terdiam sesaat, mencerna ucapan Kangin yang sudah lari dengan tawa membahana.

 "MWO?! YAK! BERHENTI KAU, RAKUN GENDUT! AKAN KUKEMPESI KAU!" bentak Heechul sembari berlari menyusul Kangin. Urat di dahi dan lehernya tampak terlihat jelas. Bermacam ide untuk membalas rasa malunya berputar di kepalanya. 

Heechul terus berlari menjauh dari taman dengan berbagai umpatan tanpa menyadari namja cantik yang menjadi obyek Heechul sudah terduduk sembari menatap Heechul yang perlahan menghilang dari pandangannya dengan wajah datar. Headphone di telinga juga sudah terlepas. Apa dia mendengar ucapan Kangin tadi?

♥•*¨*•.¸¸ Bi ¸¸.•*¨*•♥

Setelah beberapa hari cuaca kota Seoul panas, hari ini tanda-tanda akan turunnya hujan mulai terlihat. Tentu saja hal ini membuat banyak warga bersorak gembira. Meskipun tetap saja mereka belum siap jika hujan datang sekarang. Pasti itu menganggu aktivitas mereka. Memang, semua hal itu pasti ada sisi positif dan negatifnya.

Tapi bagi Leeteuk, hujan merupakan hadiah terindah dari langit. Sekarang apa yang ia tunggu-tunggu akan datang juga. Errr, meskipun tamu specialnya belum ada di hadapannya, tapi ia tahu mereka akan datang. Hanya perlu menunggu beberapa jam, ahh bukan, lebih tepatnya beberapa menit saja maka mereka pasti datang. Wajah namja cantik itu tampak lebih cerah sekarang. Tidak seperti biasanya.

Seulas lengkungan di bibir tipisnya telah terukir dan memperlihatkan sebuah lesung pipi kecil di ujung bibirnya. Sesekali ia menatap dari balik jendela kelasnya ke arah gumpalan-gumpalan awan hitam yang bergelung dan terkadang menimbulkan suara gemuruh, tak jarang kilatan petir ikut meramaikan suasana mencekam itu. Belum lagi angin ribut yang menyapu pepohonan sehingga menimbulkan suara gesekkan yang tidak nyaman di telinga.

Bagi kebanyakan orang, itu sangat menakutkan. Namun tidak untuk namja cantik itu. Kedua mata almondnya terpejam. Perlahan ia menarik napas dalam-dalam mencoba untuk merasakan kehadiran tamu specialnya. Sebentar lagi mereka datang. Meskipun tidak melihatnya namun indera penciumanannya sangat peka untuk mengenali aroma ini. Ya, aroma tanah yang menguar ini lembab namun menyejukkan.

Sekali lagi ia menyunggingkan senyumnya. Membuat namja berparas angkuh di seberang sana menatap kagum oleh pesona dan senyumnya yang baru ia lihat selama satu tahun ini. Bias cahaya yang masuk melalui jendela di sekitar tubuhnya membuat sosok itu seperti angel. Angel without wings.

BRAKK!!

Leeteuk berdiri dari bangkunya secara tiba-tiba yang menciptakan suara gesekan antara kursi dan lantai berhasil membuat semua penghuni kelas melemparkan tatapan penuh tanda tanya padanya. Tak terkecuali Heechul yang memang sudah memperhatikan Leeteuk dari tadi.

"Jwaesonghamnida. Saya izin ke belakang, Sam." Leeteuk melesat keluar tanpa menunggu jawaban sang guru yang sekarang hanya ber-speechless. Tentu saja sang guru heran dengan sikap muridnya itu yang biasanya amat sangat tenang. Belum lagi wajahnya tadi tampak cerah.

"Aku juga," lanjut Heechul yang langsung kabur begitu saja. Membuat Junki-sam melebarkan matanya yang sipit.

♥•*¨*•.¸¸ Bi ¸¸.•*¨*•♥

Leeteuk sampai di atap sekolah. Ya, memang itulah tempat tujuannya. Sengaja ia berbohong pergi ke toilet. Mana mungkin diperbolehkan jika ia berkata jujur.

Leeteuk berdiri sambil menengadahkan tangan kirinya. Membuat sebagian air hujan terperangkap di telapak tangannya. Benar saja dugaan, hujan telah mengguyur tanah yang dipijaknya. Ah, andaikan ia tidak sedang mengenakan seragam, sudah dari tadi ia melompat ke tanah lapang.

Leeteuk memejamkan matanya mencoba menikmati tetesan air hujan di tangan. Cipratan kecil air hujan yang terbawa angin yang menerpa wajah namja berambut karamel itu terasa begitu menyejukkan.

"Ehem.." Heechul berdehem setelah berhasil menyusul Leeteuk dan berdiri di sampingnya.

Reflek, Leeteuk membuka matanya dan menemukan sosok namja yang berdiri di sampingnya. "Eoh, sejak kapan di sini?" tanya Leeteuk heran.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan Kim Heechul, baru sekarang ia mendengar suara namja yang telah membuatnya penasaran setengah mati. Heechul menarik kecil ujung bibirnya setelah sebelumnya terdiam sesaat.

"Belum lama," jawab Heechul. "Ternyata kau pandai berbohong juga," lanjutnya terkekeh menatap air hujan yang tumpah di luar sana.

"Aa, sekali-sekali tidak apa-apa, kan? Sepertinya kau juga begitu," timpal balik namja cantik itu sembari tertawa renyah. Membuat Heechul menggaruk tengkuknya malu.

Suasana kembali tenang saat dua namja itu terdiam dengan pikiran masing-masing. Heechul hanya menatap lurus pada berbagai bangunan di depan matanya yang tanpa terhalang apapun karena mereka berdiri di atap lantai empat gedung sekolah.

"Hujan ini.... hujan pertama yang turun, aniya?" tanya Leeteuk pelan.

"Wae? Sepertinya kau senang. Dari tadi kau terus seperti ini..." Heechul menarik kedua ujung bibirnya dengan jari telunjuknya, memberi contoh.

"Benarkah?" Leeteuk membulatkan matanya senang. "Aku tidak menyadari itu. Tapi, sejak kapan kau memperhatikan aku?"

Heechul tertohok. "A-aku? Aku tidak memperhatikan kau. Hanya dengan sekali lihat saja, semua orang juga akan berpikiran begitu." Heechul mengelak dengan tidak menatap kedua mata berbentuk almond itu. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kalau hujan? kau senang?" Heechul kembali menatap namja cantik itu.

"Uhm, aku senang. Karena mereka temanku," jawab Leeteuk menampilkan senyum beserta lesung pipinya.

Heechul yang melihat senyum khas itu terdiam. Pikirannya melayang ke masa-masa beberapa tahun yang lalu. Sepertinya ia tidak asing dengan lesung pipi kecil itu. Teman? Hujan temannya? Siapa sebenarnya namja yang ada di hadapannya? Mungkinkah dia orang yang sama dengan teman sesaat namun begitu spesial di hati Heechul?

♥•*¨*•.¸¸ Bi ¸¸.•*¨*•♥

Hari demi hari berlalu, menyisakan berbagai kenangan yang terpahat di pikiran dan hati masing-masing yang kelak menjadi bagian kehidupan. Tak terkecuali dua namja yang tengah duduk di bawah pohon Willow taman kompleks dan menatap kolam ikan dengan bunga teratai di atasnya.

Tidak ada pembicaraan serius di antara mereka. Seakan tenggelam oleh pesona pemandangan buatan manusia yang ada di depan mata mereka. Meskipun sore yang cerah ini banyak yang berlalu lalang di depan mereka, namun mereka tidak terganggu sama sekali. Ah, lebih tepatnya hanya Leeteuk yang tidak terganggu, sedangkan Heechul sedikit tidak nyaman dengan kesunyian di antara mereka. Tapi ya apa boleh buat? Toh Heechul mengerti dengan keadaan itu.

Sejak hari di mana mereka kabur dari kelas dan pergi ke atap, hubungan mereka semakin dekat. Semua itu karena Heechul, seorang namja yang amat penasaran dengan sosok Leeteuk, berusaha lebih mendekatinya. Dari situ, ia berhasil menemukan sosok lain dari satu orang yang sama. Sikap Leeteuk yang ramah, asik diajak berbicara, dan terkadang konyol dapat ia temukan jika.... hujan.

Tapi Heechul belum menemukan alasan dari sifat yang tersembunyinya itu. Untuk itu ia masih harus mencari potongan puzzle tentang diri namja bermata almond itu agar tahu mana sifat aslinya. Lagi pula, Heechul juga harus mencari tahu siapa Park Jungsoo yang ia kenal sebenarnya.

♥•*¨*•.¸¸ Bi ¸¸.•*¨*•♥

PRANGGG!!!

Suara pecahan benda keramik kembali terdengar dari ruang tamu untuk sekian kalinya. Membuat namja cantik yang baru saja membuka pintu tersentak kaget dan menghentikan langkahnya sesaat. Kedua biji almond yang hitam bergerak menelusuri tiap sudut ruangan tamu yang berantakan seperti telah terjadi gempa. Tak berapa lama ia kembali melangkah menuju kamarnya dan mengacuhkan semua itu. Sudah menjadi makanan sehari-hari melihat pemandangan seperti itu.

"ENYAHLAH KAU, JALANG!! PERGI SEPERTI YANG KAU MAU!! UNTUK APA KAU KEMBALI LAGI, EOH?! INGIN MENCURI UANGKU LAGI, HUH??!!" teriak seorang namja paruh baya marah. Wajahnya merah padam. Otot-otot di lehernya tampak begitu menonjol di permukaan kulit. Tidak peduli dengan ruangan tamu yang berubah wujud, ia tetap melampiaskan kemarahannya dengan membanting semua benda yang ada di dekat tangannya. Sama halnya yang dilakukan sang yeoja yang tak lain adalah istri namja paruh baya tersebut.

"MWO?! KAU SENDIRI BAGAIMANA, EOH? KEMANA SAJA BEBERAPA HARI INI? BERMAIN DENGAN SIMPANANMU, HUH?" balas sang istri tak mau kalah. Wajahnya memerah. "SIAPA YANG PENCURI?! KAU ATAU AKU?! INGAT, INI RUMAHKU! RUMAH SEKALIGUS ISINYA ADALAH PENINGGALAN APPAKU, JADI SIAPA YANG PENCURI?!" Yeoja itu menyerengai meremehkan laki-laki di depannya sembari menyilangkan tangan di dadanya. Membuat sang namja paruh baya melotot karena tertohok dengan kata-kata istrinya. Ah, bukan. Istri bukanlah sebutan yang pantas untuk yeoja itu bagi namja yang hampir berkepala empat tersebut.

Mr. Park kembali meledak, mengambil sebuah vas bunga dan bersiap melemparkan ke wajah Mrs. Park, namun perasaan tidak tega terbesit di hati dan pikirannya. Akhirnya ia melemparkan ke sembarang tempat tanpa peduli akan mendarat di mana vas bunga itu.

Leeteuk mematung di tempat ketika melihat vas itu melayang ke arahnya. Terlalu cepat sehingga ia tidak bisa menghindarinya dan akhirnya mendarat di pelipis namja cantik itu.

Leeteuk yang menatap lantai, meraba pelipisnya takut-takut. Benda cair berwarna merah itu memenuhi ruang di telapak tangannya. Pelipisnya yang terluka mulai berdenyut. Ia mendongakkan kepalanya, menatap kedua orang tuanya yang membulatkan bola matanya tanpa beranjak dari tempat itu sekedar berkata, 'Gwaenchana?'. Tapi hingga beberapa detik Leeteuk berdiri, mereka tidak bereaksi seperti keinginannya.

"Sudah kuduga," batin Leeteuk tersenyum kecut kemudian berjalan menjauh dari tempat itu. Hanya satu tujuannya, Kim Heechul. Padahal ia baru saja bertemu dengannya. Salahkan teman baiknya yang tidak datang di saat ia sedang kacau begini. Andaikan hujan datang, tentu saja itu sedikit membantu.

♥•*¨*•.¸¸ Bi ¸¸.•*¨*•♥

"Katakan padaku apa yang terjadi, eoh?" tanya Heechul menarik tangan Leeteuk dan mendudukkan di ranjang king size miliknya. "Tunggu di sini dan jangan bergerak!" suruh Heechul yang dijawab dengan senyuman oleh Leeteuk, membuat Heechul berdecak kesal lalu cepat-cepat keluar mencari kotak obat. Bagaimana bisa dia masih tersenyum sedangkan darah di pelipisnya sudah mengalir hingga pipinya dan mengotori bajunya?

"Appo?" tanya Heechul setelah kembali dan membersihkan luka yang sudah mulai mengering. Huft, entah sudah berapa gulung tisu dan box kapas untuk mendarahan tersebut. Leeteuk menggeleng pelan. Sejak tadi ia terus menatap Heechul yang tengah mengurus lukanya.

"Selesai! Kau berhutang cerita padaku, arraseo?! Semuanya!" ucap Heechul setelah menempelkan plester pada luka Leeteuk. Matanya menajam, tanda meminta penjelasan.

"Kalau aku tidak mau?" tanya Leeteuk polos.

Tidak disangka, tiba-tiba Heechul mengecup dalam bekas luka namja cantik itu yang tertutup plester. Kedua matanya terpejam seakan menikmati sensasinya. Leeteuk membulatkan mata almondnya. Jantungnya berdegum tak karuan. Darah di wajahnya berkumpul di pipi halusnya dan membuatnya hangat saat bibir tebal itu menyentuh kulit pelipisnya yang tidak tertutup plester.

"Akan kubuat kau mengatakannya," tegas Heechul setelah melepaskan kecupannya. Ia menatap mata Leeteuk sembari tersenyum licik. Rencana apa yang akan ia lakukan?

Di sisi lain, namja cantik itu hanya terbengong di tempat. Sepertinya, rohnya melayang keluar. Astaga, apa itu tadi? Kenapa jantungnya berdetak lebih cepat seakan ada puluhan kembang api? Aliran darahnya pun ikut berdesir tak karuan.

"Baiklah. Tunggu aku di sini, oke!" Heechul beranjak keluar untuk menyiapkan semua rencananya. "Jangan tidur, ara!" perintahnya yang dijawab anggukan dan tatapan tak mengerti oleh Leeteuk.

BRAKKK!!

Pintu kamar terbuka keras dan menampakkan seorang namja yang tersenyum senang dengan mata yang berbinar. Seketika Leeteuk yang tadi termenung di dekat jendela memikirkan kejadian tak terduga tadi menoleh ke arah munculnya suara.

"Kajja~ Sekarang waktunya. Ikut aku!" Heechul membalikkan badannya lalu beranjak menuju balkon kamarnya.. Leeteuk yang tak bisa membantah akhirnya hanya bisa mengikuti kemauan namja yang telah membuatnya kehilangan akal sehatnya.

"Oke, sekarang aku akan menanyakan beberapa pertanyaan dan kau hanya perlu menjawab 'hmm' jika benar, menggeleng jika salah, ara?!" Heechul mulai mengintiminasi Leeteuk dengan menatapnya secara dekat dan memegang bahunya. Sikapnya itu hanya bisa membuat namja cantik yang hatinya tengah kacau itu mengangguk pasrah.

Heechul memasang wajah serius. "Sesi pertama. Luka ini... apa kau dipukuli?" tanyanya menyentuh pelipis Leeteuk yang telah ia plester. Leeteuk menggeleng.

"Jatuh?" Leeteuk menggeleng lagi. "Kecelakaan?" tanya Heechul dan dijawab dengan gelengan lagi. Begitu seterusnya hingga tiga pertanyaan kedepan.

Heechul menunduk pasrah masih dengan memegang bahu namja cantik itu. "Huft.. oke, terakhir. Masalah keluarga?" Leeteuk membulatkan matanya dan sedikit membuka mulutnya kaget. "Benar?"

"Hmm"

"Karena itu kau menyukai hujan?"

"Hmm," jawab Leeteuk yang terperanjat kaget. Ia tidak menyangka namja di depannya bisa berpikir seperti itu.

"Sekarang sesi terakhir. Kau harus jujur, ne! Jika tidak, bersiaplah mendapat hukuman, ara!" Heechul terkekeh senang melihat raut namja cantik di depannya menegang. "Siapa namaku?" lanjutnya.

"K-Kim Heechul," jawab Leeteuk gugup.

"Kau Park Jungsoo, aniya?" Pertanyaan Heechul kali ini membuat Leeteuk mengkerutkan dahinya. Namun, kemudian ia mengangguk.

Heechul semakin mendekatkan wajahnya hingga Leeteuk memundurkan kepalanya dan semakin mencengkeram pagar balkon. "Atau Leeteuk??" tanya Heechul lagi.

Seketika raut wajah Leeteuk semakin tegang. 'Apa? Leeteuk? B-bagaimana bisa?' pikirnya. Memang sejak awal ia tahu semuanya tentang Heechul tapi ia tidak tahu jika Heechul juga tahu tentang dirinya. Sepertinya sudah waktunya untuk memberitahukan semuanya.

"Sudah kuduga," gumam Heechul menunduk sembari mendesah. "KAU!!!" bentaknya lantang. "JELASKAN PADAKU SETELAH KAU MENERIMA HUKUMAN DARIKU, ARO!!" lanjut Heechul membuat pucat Leeteuk.

Leeteuk tidak menyangka ia akan semarah itu. "A-aku.." Belum saja Leeteuk melanjutkan ucapannya, bibirnya justru sudah terkunci oleh bibir tebal Heechul yang tadi sempat mampir di pelipisnya.

Heechul semakin memperdalam kecupannya. Kedua tangannya ia gunakan mengunci tubuh namja cantik itu yang memang telah tersudut. Matanya terpejam mencoba menikmati bibir tipis nan manis itu dengan menghisapnya sesekali.

Sedangkan Leeteuk, ia terpaku di tempat dan pasrah menerima keadaan itu. Mau bagaimana lagi, sekalipun pikiran menolak tapi hatinya meloncat senang dan tubuhnya juga tak bisa digerakkan. Darahnya berdesir membuat pipinya memanas dan detak jantungnya berdegum kencang. Kakinya terasa lemas. Sepertinya, tulang kakinya berubah menjadi jelly.

Tak beberapa lama kemudian, Leeteuk memejamkan matanya sembari tersenyum dan membalas kecupan itu saat mendengar sesuatu yang sudah tidak asing di telinganya. Hujan. Malam ini tiba-tiba saja turun hujan. Kenapa Leeteuk tidak mencium aroma tanah sebelumnya? Hmm, aneh.

Di antara malam dan guyuran 'hujan', mereka melanjutkan pembicaran dan tentu saja setelah adegan kissing berakhir. Dari situ Heechul tahu alasan Leeteuk sangat menyukai hujan. Tentu saja bukan hanya itu yang harus Leeteuk. Ada 3 hal, yaitu hubungan orang tuanya, hujannya, dan Heechul. Ah, bisakah dikatakan Heechulnya? Tentu saja.

Sejak kecil orang tuanya tidak pernah akur dan selalu bertengkar jika bertemu di rumah. Leeteuk kecil yang tertekan hanya bisa diam di kamar sembari menutup telinganya dengan bantal. Tapi, jika hujan ia tidak perlu melakukan itu karena suara hujan akan meredam semua suara menyeramkan dari balik pintu kamarnya. Akan lebih baik jika kilat dan petir ikut meramaikan suasana.

"Mianhae, aku tidak datang lagi saat itu," ucap Leeteuk lirih. Tangannya terjulur, membiarkan tangannya basah terkena tetesan hujan dari atap balkon.

"Ya ya ya, aku tahu. Karena itu aku menghukummu." Heechul memutar kembali memorinya ketika ia berhari-hari datang ke taman di mana ia bertemu pertama kali dengan namja di sampingnya. "Lalu, kenapa kau tidak bilang yang sebenarnya tentang siapa dirimu sementara kita sekelas? Tidak adil. Jika aku tahu akan begitu, dulu saat kau bertanya namaku, kujawab dengan nama samaran saja. Kau sengaja melakukannya, ani? Huh!"

Leeteuk menggeser tempatnya berdiri dan menatap Heechul. "Kau yang tidak bertanya tentang diriku, " ucapnya polos.

"Ya!" Heechul melotot kesal. Membuat namja cantik di hadapannya tertawa senang. Penjelasan macam apa itu?

"Hujan ini...." Leeteuk menggantungkan ucapannya. Tak sadar Heechul yang tengah was-was. "Gomawo, Chullie~ya" Heechul tersenyum puas.

Sementara itu di atas atap balkon, empat orang namja yang berseragam orange tampak menggerutu kesal.

"Dasar anak muda! Bagaimana bisa dia menipu kita, eoh?" ujar pria bertubuh gemuk pada temannya.

"Ya, alasan macam apa itu tadi? Menambah kesan romantis? Cih," dumel yang lainnya. "Awas saja! Akan kuminta bayaran lebih mahal nanti." Ia ingat beberapa jam yang lalu seseorang menelpon kantor pemadam kebakaran tempatnya bekerja dan menyuruh mengerahkan 4 mobil pemadam ke rumahnya.

Namun apa yang terjadi setelah ia dan temannya sampai di rumah si penelpon?

'Di mana kebakarannya?' tanyanya.

Lalu si penelpon menjawab dengan santai, 'Di hati kekasihku, Ahjussi."

"Sudahlah, Hyukkie~ah. Setidaknya kita tidak harus repot dan tidak perlu mempertaruhkan nyawa kita kali ini. Benar 'kan, Wonnie," lerai namja berambut blonde dan bermata sipit.

"Nde, benar yang dikatakan Yesung hyung. Kita harus berterima kasih padanya, Hyukkie, Shindong hyung." Namja bernama Siwon tersenyum nakal masih dengan memegang selang besar yang tersambung ke mobil pemadam yang ada di samping rumah. Hal yang sama dilakukan oleh ketiga teman lainnya. "Tapi sepertinya kita terlambat menyemprotkan air ini," lanjutnya.

"Salahkan bocah itu yang teriaknya aneh!" sewot namja bertubuh kurus seperti Anchovy dan dibenarkan Shindong.
Aa, pantas saja tadi Heechul menaikkan volume suaranya ketika bicara akan menghukum namja cantik itu. Rupanya itu sebuah kode, readers :D

♥•*¨*•.¸¸ Bi ¸¸.•*¨*•♥

Ketika hujan turun, semua malaikat juga turun untuk memberikan kabar gembira kepada manusia. Tapi sayang, tak banyak manusia yang dapat menerimanya. Bukan karena sang malaikat yang tidak memberi secara merata, namun karena manusia sendiri yang tidak puas dan tidak bersyukur atas apa yang sudah diberikan oleh Yang Di Atas.

Bagi Leeteuk, hujan yang turun membasahi bumi dan menghidupkan yang mati sama dengan menghidupkan dan menyejukkan hatinya. Tidak ada hujan semua akan kering, layu, dan akhirnya mati. Tapi, Leeteuk tidak khawatir lagi jika hujan tidak datang. Karena ia tahu, Kim Heechul akan membuat hujannya sendiri.

♥•*¨*•.¸¸ Bi END ¸¸.•*¨*•♥


Thanks to read, everybody ^^ #bow

Jumat, 02 November 2012

FF YunJae//YAOI//Dead At Heart//Oneshort


Title :: Dead At Heart
Genre :: Angst, romance, sad, crime, golekno dewe #dikuliti readers#
Cat :: YunJae of course & Slight :: Changmin, Yoochun, dll.
Disclaimer :: Cast milik kalian #cassie, yjs jingkrak2# But THIS FF IS MINE!!
Warning ::
- Terlalu banyak kesalahan dalam penulisan. Maaf..
- Semua ide murni milikku, jika ada kesamaan itu faktor ketidaksengajaan. Maaf..
- HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH TUHAN Yang Maha Esa!!
 Notes :: Italic = FlashBack




Namja tinggi bertuxedo putih itu berjalan santai sembari membopong pengantin cantiknya. Tatapan mata yang bahagia terpancar dari balik biji onix-nya. Senyum yang bertengger di bibir tebalnya pun ikut menemani langkahnya melewati altar merah yang menjadi bagian saksi bisu cinta kedua insan itu. Dengan dada berdebar, ia terus memandangi sosok cantik di dekapannya.

Namja itu meletakkan pengantin barunya di jok mobil belakang setelah sang sopir membukakan pintu untuk pasangan tersebut. Suara deruman halus yang keluar dari mesin mobil mulai terdengar dan dilanjutkan dengan gerakan lambat yang berangsur cepat membelah jalanan kota Seoul, seakan memamerkan kebahagian mereka pada dunia melalui mobil pengantin itu.

Hingga beberapa menit kemudian mobil itu berhenti tepat di depan sebuah mansion klasik ber-cat putih susu dan soft purple pada sudut-sudut tertentu. Sang sopir membukakan pintu mobil dan mempersilahkan pasangan muda tersebut. Namja tampan itu kembali membopong sang istri dengan lembut.

"Gomawo, Ahjussi," ucap namja itu sambil tersenyum ramah. Kemudian, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh memasuki rumah barunya tersebut. Tanpa ia ketahui, sang sopir itu tersenyum miris sembari menatap punggung namja tampan itu yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangannya.

Namja tampan bermata tajam itu mulai memegang engsel pintu kamar mere, memutar perlahan dengan sedikit kesusahan dan mendorongnya. Ia memasuki kamar yang tidak terlalu luas. Berbagai macam buket bunga menghiasi hampir tiap inci sudut ruangan tersebut.

"Welcome in our heaven, Boo. Lihat ini! Apa kau suka? Ehm~ aku yakin kau akan suka," ucap namja itu.

Lalu ia berjalan diantara kelopak-kelopak bunga mawar merah yang bertebaran dimana-mana menuju sebuah ranjang king size mewah yang setengah tertutup oleh kelambu berwarna soft purple.

"Aigoo~ kau lelah, eoh?" tanyanya setelah meletakkan namja cantik itu yang tengah terlelap. Lalu, ia duduk di pinggir ranjang itu sembari mengamati intens setiap lekuk wajah istri cantiknya.

»»» °°YunHo pov°° «««

Hei sayang, taukah kau betapa cantiknya dirimu? Rambut halusmu yang berwarna karamel, alismu yang tegas dan rapi, bola matamu yang bulat bak hazel dan akan mengkilat setiap kali kau merengek meminta sesuatu, hidungmu yang runcing, dan juga bibir merahmu yang kini telah kehilangan tintanya namun itu tak dapat mengurangi kecantikanmu, sayang. Kau seperti mannequin hidup. Ah, tidak. Kau lebih cantik dari itu. Semua keindahan terlukis di dirimu.

Hei sayang, bisakah kau berhenti membuatku terpesona? Aku benar-benar gila karenamu. Bahkan dengan kau terlelap seperti ini saja, jantungku seakan ingin melompat keluar dari tempatnya jika aku menatapmu. Maafkan aku yang bodoh ini karena pernah membuatmu terluka. Tapi jangan khawatir, setelah ini aku berjanji akan membahagiakanmu. Hanya berdua, kau dan aku.

Kau tahu, hari ini benar-benar moment terindah bagiku. Dapat bersumpah di depan pendeta, menggendongmu melewati altar merah, dan yang paling aku suka adalah dapat melihatmu mengenakan gaun pengantin ini. Dulu kau selalu ngotot ingin mengenakan white suit jika kutanya tentang pernikahan kita. Tapi, pada akhirnya kau menurut juga padaku. Gomawo, honey. Lihat! sekarang kau benar-benar cantik mengenakan gaun ini.

"Hiks.. kenapa aku seperti ini? Ini benar-benar mengerikan, Yun. Hiks.. Gaun ini membuatku gatal," keluhmu ketika kau bercermin di butik pengantin satu bulan yang lalu.

Aigoo~ kau tau, saat melihatmu keluar dari kamar ganti, rasanya rohku melayang keluar. Tapi melihat matamu merah aku pun tersadar dan berusaha merayumu agar tidak menangis.

"Mengerikan apa? Kau benar-benar cantik, Boo. Kau sangat pantas memakainya. Aku sampai tidak percaya ini adalah kau. Aku kira ini mimpi," pujiku sembari menjepit hidungmu.

"Hiks.. benarkah aku pantas memakainya, Agashi?" tanyamu meragukan ucapanku. Karyawan itu pun tersenyum dan mengangguk mantap.

Kau membuatku cemburu saat itu, Boo. Masa' pada kekasihmu sendiri kau tidak percaya, tapi langsung percaya ucapan orang lain. Huft, tapi tetap saja aku tidak bisa marah padamu, kecuali jika kau berani menduakan aku, sayang. Tapi aku rasa kau tidak akan berbuat seperti itu padaku. Aku percaya padamu.

»»» °°YunHo pov End°° «««

Yunho membelai lembut pipi pucat istrinya. Meraba tiap inci wajah Jaejoong -nama istrinya- hingga tak ada satu pun bagian yang terlewat. Ia tampak senang dari luar. Tapi tidak dengan pikirannya. Tak bisa dipungkiri sesuatu terus menghantuinya. Kilasan kejadian memilukan beberapa hari yang lalu terus berputar di kepalanya.

Masih dengan membelai wajah pujaan hatinya, tak sadar cairan bening keluar dari ekor mata musangnya secara perlahan. Namun, lama-kelamaan menjadi tangisan yang memilukan.

"Lihat! Dia enak-enakkan party sedangkan kekasihnya sedang bercumbu dengan orang lain. Kasian sekali kau, Jung."

Kemudian, "KIM JAEJOONG!!" bentak Yunho.

"Yun- Yunnie? hiks.. kau datang? Tol..."

"KAU BERHARAP AKU TIDAK DATANG??!! LALU KAU BISA MENIKMATI MALAM BERSAMA DENGANNYA, BEGITU?!! KAU MEMANG JALANG, KIM!!!"

"I-ini tidak seperti yang kau bayangkan, Yun. Hiks.. percaya padaku.. jebaaal.. hiks.."  mohon namja cantik itu pada kekasihnya yang salah paham.

Yunho yang kalap melihat pemandangan menjijikan itu mengacuhkan perkataan kekasihnya. Bagaimana bisa ia berpikir jernih melihat kekasihnya yang akan menjadi istrinya dua hari mendatang, sekarang justru bercumbu dengan pria lain.

Taecyeon, namja yang tidur dengan namja cantik itu menyeringai puas saat rencananya untuk membuat mabuk, meniduri Jaejoong dan Yunho –musuhnya- melihat hal itu sekarang berhasil. "Ck, kau mengganggu kami, Jung!"

"DIAM KAU, BRENGSEK!"

"Yunnie jebaaal... jangan dengarkan dia.. hiks.. percaya padaku.. hiks.."

"Tetap di tempatmu, Kim Jaejoong! Arraseo, kubiarkan kalian bersama. Se-la-ma-nya! Selamat tinggal, Kim."

Detik itu juga Yunho berhenti memikirkan kejadian selanjutnya. Ia tak sanggup mengingatnya kembali. Terlalu menyakitkan.

Beruntung getaran ponsel miliknya mampu membuatnya lupa sesaat. "Yoboseyo?" sapanya setelah menjauh dari ranjang dan berdiri di dekat jendela yang tertutup rapat.

"Hyung, akhirnya kau mengangkat teleponku. Kau dimana, eoh? Aku mohon pulang lah. Kami semua mencemaskanmu. Kau tahu, sekarang eomma sakit karena memikirkanmu. Appa mendapat surat panggilan karena sering absen hanya untuk mencarimu. Ku mohon pulang lah..." Terdengar suara memohon dari seberang telepon.

"Tidak. Aku tidak akan pulang, Minnie. Sampaikan salamku pada mereka."

"Waeyo, hyung? Kau tidak bisa begini. Apa yang membuatmu tidak ingin pulang, huh?!" Orang itu mulai kesal.

"Aku akan hidup bahagia dengan Boojae-ku di sini," jawab Yunho tersenyum sembari menatap sebuah pohon sakura di balik jendela.

"HYUNG!!!" Suara teriakkan terdengar di telinga Yunho.

"Kumohon lupakan dia. Jaejoong hyung sudah pergi. Dia.. hiks.. sudah pergi meninggalkanmu, hyung. Hiks.. jebaaal. Lupakan dia. Kau tidak harus menyiksa dirimu seperti ini," tangis dongsaeng namja tampan itu pecah.

Yunho membesarkan matanya, namun detik berikutnya sebuah lengkungan tercetak di bibirnya. Ia memutar tubuhnya, menatap bahagia pada namja cantik bergaun putih yang tengah tidur di ranjang pengantin. Bagaimana bisa Changmin -namja yang menelepon Yunho- mengatakan bahwa Jaejoong sudah pergi sedangkan dirinya ada di depan Yunho? Ah, mungkin karena Changmin tidak melihat Hyung-nya itu sudah menikah dengan Jaejoong. Pikir Yunho.

Tak ingin berdebat lebih lama dengan adiknya, ia pun menjawab seadanya. "Haha, arraseo. Kau tidak perlu memikirkan aku. Cukup jaga Umma dan Appa demi aku, otte?" pesannya sedikit terkekeh.

"Ingat! jangan menungguku lagi. Biarkan aku menentukan jalan hidupku sendiri, Minnie~ya.." pinta Yunho dan dilanjutkan dengan memutuskan sambungan telepon sebelum Changmin membuka mulutnya lagi.

Tak ingin ada yang mengganggunya lagi, Yunho mematikan ponsel dan mematahkan sim card-nya.
Kemudian ia berjalan ke pintu untuk menguncinya. Begitu juga jendelanya yang juga ditutup rapat. Setelah itu ia mengambil beberapa butir pil obat atau lebih tepatnya racun dari laci dan menelannya langsung.

Masih dengan berpakaian lengkap ala pengantin, Yunho ikut berbaring di sisi kanan istrinya. Menyusupkan tangan kirinya di tengkuk namja cantiknya, sedangkan tangan kanannya menarik tubuh Jaejoong hingga dada mereka saling berhimpitan.

"Tadi Changmin meneleponku, Boo. Aku tidak tahu dengan ucapan bocah itu yang mengatakan kau sudah pergi, sedangkan sekarang kau berada dipelukanku. Anak itu benar-benar lucu," ucapnya dengan tangan yang sibuk membelai pipi pucat istrinya. Hingga gerakan tangannya terhenti karena melihat bekas luka di pelipis namja cantik itu. Tak segan-segan, ia pun mengecupnya lama berharap bekas luka itu dapat hilang.

"Baiklah, Boo. Sekarang saatnya kita untuk hidup bahagia. Lupakan semua masalah pernah ada di antara kita. Kau hanya perlu fokus terhadap masa depan kita, ne," lanjutnya. "Aigoo~ seberapa lelahnya dirimu, eoh? Lama sekali tidurmu. Dasar gajah nakal."

Yunho tersenyum sembari mencium lembut bibir cherry Jaejoong yang kini telah kehilangan warna merahnya. Merasa tak puas, ciuman Yunho beralih ke seluruh penjuru wajah cantik Jaejoong. Ia tampak gembira meskipun dengan air mata yang keluar melalui kedua mata musang miliknya.

"Saranghae, Boo. Yeongwonhi," gumam Yunho setelah melepas ciumannya dan berganti dengan memeluk raga tanpa jiwa istrinya itu.

Yunho merasa matanya berat pun ikut memejamkan matanya dengan pikiran yang masih sempat aktif dan memutar kejadian dua hari lalu yang amat sangat memilukan hingga akhirnya kegelapan menyelimuti saat tubuhnya mulai kacau.

Dorrr!!
Dorrr!!

Suara letupan revolver saat itu memenuhi kamar apartment mewah yang tampak redup. Setelah itu, seorang namja tampan berjalan santai meninggalkan dua orang yang tadi sempat bercumbu dengan keadaan bersimbah darah memenuhi tubuh mereka dan juga sepreinya. Sebelum keluar dari pintu, ia menyempatkan diri untuk meletakkan pistol di tangan sang pria berotot yang menjadi salah satu korbannya.Menghilangkan bukti, eoh?

"Aku sudah membunuh mereka."

Lalu seorang berpipi chuby melotot tidak percaya. "KAU GILA!! KAU MEMBUNUH KEKASIHMU SENDIRI TANPA MENDENGAR PENJELASANNYA DULU, HUH??!!"

"Aku tidak butuh penjelasan. Bukti nyata ada di depan mataku." Pembunuh itu tampak santai setelah berhasil membunuh kekasihnya dan pria yang dianggap selingkuhannya.

"Kau benar-benar pria terbodoh yang pernah aku temui, Jung. Kau bahkan tidak percaya jika kekasihmu itu dijebak."

"Berhenti membelanya, Park!"

"KAU MAU BUKTI. BAIK! AKAN KUBUKTIKAN! IKUT AKU!"

Detik berikutnya, setelah teman si pembunuh membuktikan kebenarannya, Yunho -nama pembunuh itu- seperti kehilangan nyawanya. Semua otot sendinya tegang. Namun, kakinya terasa sangat lemas seakan tulangnya berubah menjadi jelly. Tidak ada kata, tidak ada kedipan dari matanya, hanya ada suara lembut napasnya dan air mata yang keluar dari kedua mata musangnya yang membuktikan betapa sakit dan juga bodoh dirinya.

Masih tersimpan di benaknya ketika beberapa menit yang lalu Jaejoong memohon pada kekasihnya untuk percaya padanya. Tapi tidak ada ekspresi memohon ketika dirinya menodongkan pistol tepat ke arahnya. Kekasihnya itu hanya menatap dengan wajah pasrah sekaligus sakit saat Yunho tidak lagi percaya pada kekasihnya.
 >> 2 years later
Setelah dua tahun mencari keberadaan Hyung-nya, Changmin bersama seorang namja memasuki sebuah mansion klasik ber-cat putih dan soft purple yang kini tampak kotor oleh daun-daun kering yang berguguran di halaman mansion tersebut. Meskipun begitu, bangunan itu sendiri masih tampak kokoh dan cukup bersih. Mungkin hanya debu dan sarang laba-laba yang menjadi hiasan alaminya.

"Yoochun hyung, kau yakin ini alamatnya?" tanya salah satu namja tinggi itu. Ia seperti ketakutan.

"Aku sangat yakin, Minnie. Sopir yang pernah mengantar mereka yang mengatakannya sendiri," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya pada secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat. "Benar ini, Min. Kajja kita masuk!"

Namja chubby itu mengetuk pintu berkali-kali namun karena ada yang membukanya mereka memutuskan untuk mendobrak pintu tersebut.

"Aku akan berkeliling.”  Yoochun melenggang menelusuri tiap ruangan setelah berhasil masuk.

"Aku periksa lantai dua kalau begitu."

Benar, tiap ruangan memang masih indah jika saja tidak ada debu dan sarang laba-laba. Semua perabotan tetap di tempatnya sama seperti dua tahun yang lalu. Ketika sepasang pengantin tinggal di situ.

"Minnie, kau berhasil menemukan mereka?" tanya Yoochun ketika sudah berada di sebuah kamar yang lantainya berserakan kelopak-kelopak mwar merah yang kini menjadi hitam dan tak berbentuk lagi.

"Hiks.." isak Changmin sembari berjongkok dan menenggelamkan wajahnya di lutut kakinya. Melihat itu, Yoochun tampak kaget. Namun semakin kaget ketika melihat sesuatu tepat di ranjang pengantin di depan matanya.

Dua orang yang tengah berpelukan. Seseorang yang memakai tuxedo putih lengkap dengan sepatunya dan satu orang lainnya mengenakan gaun pengantin putih.

Seketika tubuh Yoochun merosot. Ia kenal betul mereka yang tengah tertidur dalam keabadian itu. Jasad mereka utuh, tidak membusuk dan tidak bau. Hanya sedikit keriput kulitnya. Mereka seperti sedang tertidur dalam keabadian. Yoochun meyakini bahwa teman gilanya -Yunho- telah merencanakan semua ini sejak kejadian itu. Ia juga tahu bagaimana Yunho dapat melakukan semua ini. Untuk seorang dokter yang kenal dengan berbagai obat dan bahan kimia, tentu tak sulit.

“Kau akan membawanya kemana?”

“Kau tidak perlu tau. Jangan katakana apapun tentang ini. Biarkan saja namja itu di dalam. Polisi tidak tahu kalau ini kasus pembunuhan kecuali kau yang melaporkannya.”

Saat itulah hari terakhir kali Yoochun melihat sahabatnya – Yunho- yang sedang membawa tubuh kekasihnya yang tak lain adalah Kim -Jung- Jaejoong.

>> END



Well, tidak memaksa buat CL, karna kepuasaan reader adalah prioritas utama bagiku. Tapi klo mw kritik, saran, bash, flame untuk membangun sih tidak masalah. Itu sangat berarti meskipun hanya satu huruf. :D
Terakhir, Gomawo buat semuanya yg sudah meluangkan waktu untuk membaca FF produk gagal ini :*


Jumat, 28 September 2012

FF BROTHERSHIP// The Law// Jungsoo(Leeteuk)// PART 1





         


Tittle :: The Law
Genre :: Brothership, Family, little fantasy (?), nan molla -,-
Pairing :: JungTeuk       
Cast :: Kim JungSoo, Kim Leeteuk, Kim Yunho (Appa), Kim Jaejoong (Eomma), dll
Disclaimer :: This Story is MINE and Pairing JungTeuk is M.I.N.E !!!!!! #ngotot#
Warning :: 
* Penggantian nama Marga adalah faktor kesengajaan.
* FF punyaku jadi terserah donk mau aku apain.. ok! ^^ 
* Terima kritik, saran, flame, bash readers  asal untuk membangun tulisan :D
* Terlalu banyak kesalahan dalam penulisan. Maaf..
* NO COPY & NO PLAGIAT (all or same of this part FF without permit from me) READ, YES! :)

~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~~

Sepasang malaikat itu tengah duduk manis di kursi kebesarannya yang tampak berkilau emas. Sedangkan dua malaikat muda yang ada di hadapan mereka tampak menundukkan kepalanya sambil bersimpuh.

Salah satu malaikat yang sedang duduk di kursi itu mempunyai sayap putih bersih. Ia tengah sibuk menatap tajam dengan geram pada dua obyek di depannya. Mata musangnya menyelidik tiap inci ke wajah dua malaikat muda yang ada di hadapannya itu. Jika ini sebuah komik, tentu saja bisa digambarkan dengan kilatan-kilatan petir yang keluar dari kedua matanya.

Berbeda dengan malaikat cantik yang ada di sebelahnya. Ia tidak peduli dengan kedua obyek di depannya, ia justru memandang cemas ke namja tampan yang bersayap putih. Sesekali bibir merah cerrynya bergerak-gerak tak jelas. Entah apa yang ia gumamkan. Bosan dan cemas yang ia rasakan. Kini badannya ikut bergerak gusar membuat sayap hitam di punggungnya bergoyang pelan. Ia benar-benar tak suka dengan kesunyian ini.

"Sudah berapa kali Appa bilang untuk tidak menampakan wujud asli kalian di hadapan manusia, eoh??" ucap malaikat tampan geram.

"Tap...tapi Jungsoo Hyung yang membuatku kesal duluan, jadi aku tidak bisa mengontrol emosiku," bantah malaikat muda bersayap putih. Sedangkan namja yang bernama Jungsoo merasa tidak terima dengan tuduhan itu, langsung memberikan deathglare gratis. Membuat namja di sebelahnya bergidik ngeri.

"Jangan hanya menyalahkan Hyungmu, Teukie-ah! Ini semua karena ulah kalian yang selalu berkelahi itu. Sampai kapan kalian akan berhenti bertindak seperti anak-anak, eoh??" tanya sang Appa dengan nada kesal.

"Mian," sesal Jungsoo.

Wow, tidak biasanya ia mengucapkan kata yang menurutnya tabu itu. Bukan berarti sifatnya jahat atau apa, hanya saja ia paling tidak bisa mengungkapkan kata-kata manis seperti itu.

"Untung saja Raja Siwon tidak menghukum kalian. Aiish, karena ulah kalian itu aku harus memohon-mohon sambil berlutut padanya." Yunho mengacak kesal rambut hitamnya. "Tapi jangan senang dulu, karena Appa yang akan menghukum kalian," lanjutnya.

"Mwo!!" teriak Leeteuk dan juga sang Umma, sedangkan Jungsoo membelalakkan mata almondnya.

"Appa jebal, jangan suruh aku untuk memberi makan ikan-ikan di laut seperti waktu itu!" sahut Leeteuk panik. "Ahh, aku juga tidak mau untuk mendaftar kematian ratu semut," lanjutnya.

‎"Ani. Aku akan memberi hukuman yang mendidik kali ini. Kalian akan aku kirim ke bumi dan menjadi manusia," ucap Yunho datar.

"MWO!!!!!!" teriak si kembar dan sang Umma bersamaan.

"YUNNIE!!"

"APPA!!"

"Andwae, Appa! Aku tidak mau! Jebal! Apapun akan ku lakukan asal tidak di tempat yang penuh kebohongan itu. Jebal Appa, hmm??" Leeteuk menangkupkan kedua tangannya sambil berlutut. Tatapan matanya dibuat se-aegyo mungkin. Tapi naas, sang appa tetap tak bergeming melihat puppy eyesnya.

"Berhenti menatapku seperti itu! Kau tak akan bisa mengubah keputusan Appa, Teukie-ah. Ckck, lihat Hyungmu! Dia tidak menolak keputusan Appa."

Jungsoo yang mendengar ia disebut-sebut langsung mengangkat kepalanya dan menatap sang Appa dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

"Aishh, Hyung cepat katakan sesuatu!" kata Leeteuk sambil menarik-narik lengan Hyungnya.

"Shireo!" sahut Jungsoo singkat. Ia menatap tajam Appanya.
Mendengar komentar anaknya yang diluar dugaan itu membuat mata musang Yunho melebar.

"Kau tidak akan melakukannya kan, Bear??" Giliran Jaejoong yang mengeluarkan puppy eyesnya.

"Ani. Aku akan melakukannya, Boo."

"Mwo! Kau tega melakukan itu, Yun??"

"Kenapa tidak, Boo? Toh ini demi kebaikan mereka juga."

"Mwoya! Kebaikan?? Di tempat itu tidak ada yang baik, Yun. Ayolah my Yunnie Bear, maafkan mereka! Mereka masih anak-anak, Yun. Lagipula kejadian itu bukan kesalahan mereka sepenuhnya."

Mendengar Ummanya mengatakan bahwa mereka masih anak-anak, Jungsoo mendelik menatap umma. Ia paling tidak suka dianggap masih anak-anak.
'Ck, siapa yang anak-anak? Kalau dia, aku percaya,' pikirnya sambil melirik kembarannya.

"Diam, Boo! Sikapmu inilah yang membuat mereka selalu seperti anak-anak. Jangan memanjakan mereka terus!" kata Yunho tegas tapi menusuk. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi Jaejoong yang notabene sangat sensitif?

"Yu..Yunnie?" Jaejoong terkejut dan menatap suaminya itu dengan mata yang siap menumpahkan cairan krystal bening.

"Oke, detik ini juga kalian berangkat. Kalian tidak akan bisa kembali sebelum merubah sikap itu!"

"Andwae! ANDWAE..!!! Umma..umma.. tolong aku! Aku tidak mau, Umma! Appa, Jebal!" teriak Leeteuk panik. Dengan cepat ia menghampiri Jaejoong. Mata almondnya sudah menumpahkan air mata.

Saat tinggal selangkah lagi ia dapat meraih tubuh ummanya, tiba-tiba...

Splaaaaashh...

"ANDWAEEE!!" teriak Jaejoong, lalu ia menatap tajam dengan air mata yang telah mengalir deras ke arah namja tampan yang melakukan itu.

"Huufttt,..." Yunho menghela napas panjang. Ia tahu setelah ini pasti akan ada 'hadiah' yang ia terima dari malaikat cantik itu.

Dua malaikat muda itu kini benar-benar menghilang setelah Yunho menjentikkan jari-jari indahnya. Mungkin sekarang mereka telah sampai di bumi.

____(~,~ )____    ____(~,~ )____    ____(~,~ )____    ____(~,~ )____

"Euunggh..."

Desahan kecil keluar dari mulut Jungsoo saat matanya terbuka sedikit karena belum terbiasa dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela.

"E.. eh dimana ini??" Jungsoo memerhatikan keadaan disekitarnya.

Ia merasa asing dengan kamar itu. Merasa penasaran, ia bangkit dari kasurnya sambil menolehkan kepalanya. Tatapannya tertuju pada namja yang mirip dirinya. Ia masih memejamkan matanya dengan posisi terlungkup.

Tempat itu tenyata hanya mempunyai hanya dua ruangan. Satu kamar mandi dan satu lagi ruangan yang mereka tempati itu sendiri. Ruangan yang sekaligus dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang belajar dan kamar tidur. Oh God, ini lebih mirip seperti kandang. Lebih tepatnya kandang mewah, karena sebenarnya tempat itu benar-benar mempunyai desain minimalis namun tetap modern.

Jungsoo keluar dari kamar itu. Saat pintu terbuka, sebuah taman kecil yang pertama kali terlihat. Well, ternyata itu sebuah rumah bukan apartement. Ia berdiri di tengah pekarangan itu sambil menatap rumah kecil di depannya. Bisakah itu disebut rumah? Tapi kenapa lebih mirip gubuk derita? Yah, meskipun tak separah itu juga sih.

Rumah itu cukup unik. Bangunan yang bundar tidak teratur, atap yang melengkuh berwarna merah dengan motif polkadot putih, pintu dan jendela juga berukuran mini dari biasanya. Singkatnya, rumah itu seperti rumah jamur yang ada di dongeng kurcaci itu.

Meskipun kecil, rumah itu sangat nyaman karena dikelilingi tanaman-tanaman yang berbunga dan juga pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi. Pohon-pohon itu mempunyai cabang jadi sangat mudah untuk dipanjat, dan ternyata ada sebuah rumah pohon juga di atas situ.

"HYUNGIE!!" teriak Leeteuk membuyarkan pikiran Jungsoo. Ia berlari kearah kembarannya itu sambil melambai-lambaikan secarik kertas yang ada ditangannya. "Lihat ini!" suruhnya.

Jungsoo mulai membaca isi kertas itu.

Kalian bisa pulang setelah memperbaiki hubungan kalian. Cepat lambatnya kalian di bumi, tergantung kalian. Jalani kehidupan seperti manusia biasa, dan jangan harap bisa menggunakan kekuatan yang kalian miliki. Appa sudah menyiapkan beberapa keperluan untuk mengawali kehidupan di bumi, termasuk sekolah kalian. Hanya sekolah.

NB :: Jika kau telah mengucapkan satu kata sebagai 'password'nya, saat itu juga kalian kembali.

♥ YunJae ♥

Pesan yang cukup singkat tapi juga cukup membuat mereka bingung. Jungsoo masih tak bergeming. Ia mencerna pesan terakhir di surat itu. 'Apa maksudnya password? Kenapa hanya 'kau' bukan 'kalian'? Untuk siapa password itu?'

"APPAAAA NAPPEUNN...!!" teriak Leeteuk tiba-tiba sambil menengadahkan kepalanya ke langit biru. "UMMAAA YEPPEO JUGA NAPPEUNN...!!!"

"Bodoh!" gumam Jungsoo sebelum masuk ke dalam rumah mini.

Sementara di balik awan, sepasang malaikat tengah mengawasi namja kembar itu.

Namja bermata musang itu terkikik setelah mendengar teriakan namja berambut hitam yang terlihat kekanakkan. "Lihat, Boo! Dia berani mengejek Appanya yang tampan ini." Jaejoong mempoutkan bibirnya lucu. "Dia juga mengejekmu, Boo. Tapi aneh, mana yang benar? Umma yeppeo atau Umma nappeun?" Jaejoong kesal, ia memukul pelan lengan suaminya itu.

"Aku tampan!" tandasnya cepat. Kemudian ia mengepakkan sayap hitamnya dan pergi begitu saja.

____(~,~ )____    ____(~,~ )____    ____(~,~ )____    ____(~,~ )____


"Annyeonghaseyo, Kim Jungsoo imnida. Bangapseumnida." Jungsoo memperkenal diri di depan kelas sambil membungkuk sedikit.

"Annyeong, yeoreobun. Kim Leeteuk imnida. Panggil Leeteuk saja, atau Teukie juga boleh," ucapnya masih dengan senyum yang merekah. Ia memperkenalkan diri dengan bahasa yang tidak terlalu formal.

Suasana kelas menjadi tenang setelah songsaenim berhasil membujuk murid-muridnya untuk tidak ribut. Kedatangan mereka lah yang membuat kelas itu mendadak ricuh. Suatu moment langka mendapatkan teman baru yang serupa itu. Begitu kira-kira pikiran murid-murid itu. Namja kembar itu tidak ada bedanya, mulai ujung rambut hingga ujung jarinya semuanya sama. Seperti foto copy-an.

Musim gugur ini, mereka resmi menjadi murid SJ High School. Appanya telah menyiapkan segala sesuatu untuk sekolah mereka kemarin. Mulai dari surat-surat penting, seragam, dan sejumlah uang yang pasti akan segera habis jika mereka tidak mengisi ulangnya.

"Baiklah kalian boleh duduk. Tapi, sebelumnya ada yang ingin saya tanyakan. Ehmm... yang mana hyungnya?" tanya songsaenim Hankyung kikuk.

"Dia hyungku, Sam." jawab Leeteuk sambil menepuk pundak hyungnya.

Padahal Jungsoo baru akan membuka mulutnya, tapi malah didahului Leeteuk. Jungsoo mendengus.

Hankyung terkekeh pelan. "Kalian tidak ada bedanya. Baiklah, kalian boleh duduk. Cari bangku yang kosong!"

Leeteuk mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Ia mencari tempat duduk yang masih kosong. Akhirnya, mata almondnya berbinar setelah melihat dua bangku kosong di dekat jendela.

"Hyungie, di situ saja!" Jungsoo tidak menyahut. Ternyata ia sudah menempatkan diri di bangku yang bersebelah dengan namja imut. Bangku itu jauh dengan yang dimaksud Leeteuk tadi. Leeteuk hanya menatap hyungnya sambil tetap berdiri.

"Hei, kau boleh duduk di sini kalau kau mau," panggil seorang namja cantik. Ia menepuk bangku di sebelahnya. Leeteuk tersenyum senang.

"Jincha? Gomawo, Chullie," ucapnya setelah ia melihat name tag bertuliskan Kim Heechul di seragamnya.

Leeteuk menyimak penjelasan Hankyung songsaenim, sesekali ia mengobrol pelan dengan teman barunya itu. Meskipun mereka baru saja bertemu, tapi tampaknya kedua namja itu seperti sudah akrab. Leeteuk memang mudah bergaul dengan siapa saja, berbanding terbalik dengan hyungnya.
Kim Jungsoo, namja pendiam, tertutup, tidak bisa mengungkapkan perasaannya, berbicara jika itu dianggap penting, mempunyai jalan pikiran yang tidak bisa ditebak, cerdas dalam banyak hal kecuali dalam hal yang menyangkut perasaan. Satu kata yang tepat untuk menjelaskan itu semua, yaitu cool.



Kim Leeteuk, lahir lebih lambat 15 menit dari hyungnya. Namja ceroboh, manja, usil dengan hyung dan ummanya, kek

anak-kanakkan, mudah bergaul, bicara apa adanya, tidak terlalu pintar seperti hyungnya, tapi ia namja yang peka terhadap lingkungannya. Satu kata yang tepat untuk menjelaskan itu semua, yaitu warm.



Mereka 'dibuang' ke bumi oleh Appanya dengan keputusan sepihak dan menjalankan rutinitas manusia pada umumnya tanpa meninggalkan jejak sosok asli mereka. Akibat kecerobohan mereka, beberapa manusia tak sengaja melihat wujud asli mereka yang tengah melayang di udara. Tentu saja itu membuat gempar manusia di bumi. Itu termasuk pelanggaran.



Sebenarnya saat itu mereka tengah mengadakan pertarungan kecil. Karena kejahilan Leeteuk, ia berhasil membuat hyungnya kesal dan marah. Jungsoo ingin sekali memberi pelajaran saat itu, meski hanya sekedar menjitak kepalanya. Sedangkan Leeteuk tidak akan berhenti jika hyungnya belum beraksi. Sungguh, saat itu benar-benar moment langka yang sangat menyenangkan bagi namja usil itu.



Karena berbeda sifat yang amat jauh, itu membuat mereka sering terlihat tidak akur. Tapi, cepat pula redanya, mengingat sifat Leeteuk yang tidak pernah menganggap pertarungan kecil sebagai hal yang perlu dibesar-besarkan. Sedangkan Jungsoo? Entahlah, tidak ada yang tahu jalan pikirannya.


~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~~ The Law ~~~~~~~~~


"Hyungie, kau mau makan malam dengan apa? Aku buatkan, ne?" tanya Leeteuk sambil memilih-milih bahan makanan di kulkas mini itu.



"Ani," jawab Jungsoo singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Ia sedang malas makan.



"Aku masak ramen dengan sup kimchi saja ya hyungie?"



Tanpa menunggu jawaban dari hyungnya, ia langsung melesat untuk memasak. Tidak sampai satu 1 jam, makan malam sudah tertata rapi di atas meja kecil.



"Ayo makan, hyungie!" Jungsoo tak meresponnya, ia tetap sibuk dengan bukunya.



Leeteuk bangkit dari kursi meja makan untuk mencari sesuatu. Ternyata ia mengambil beberapa batang lilin lalu mulai menaruhnya di meja makan itu.



"Makan malam telah siap. Kajja, hyungie!"



"Kau duluan," gumam sang kakak tidak tertarik.



"Ayolah hyungie, berhenti menatap lembaran-lembaran itu!" Jungsoo tidak menjawabnya. Diam-diam Leeteuk keluar rumah, tapi melalui ekor mata Jungsoo menangkap gerakan itu.



Klikk!!



"YAKK!!" teriak Jungsoo kesal karena acaranya terganggu.
  

Apa yang terjadi? Ternyata Leeteuk mematikan aliran listrik yang ada di rumah minimalis itu. See! Ulah seperti apa lagi sekarang?

Dengan berjalan pelan, Leeteuk kembali masuk dan mulai menyalakan lilin yang telah ia persiapkan sebelumnya.
  

"Cepat nyalakan!!!" bentak namja cool itu.



"Ani, sebelum hyungie makan. Hhehe..." Leeteuk tertawa pelan melihat hyungnya kesal. "Aku tidak akan menyalakannya sebelum kau makan, dan jangan berpikir untuk menyalakannya karena..." Leeteuk menunjukkan dan menggoyang-goyangkan sebuah kunci kecil untuk mengunci box listrik di samping rumah.



Di saat beginilah Jungsoo ingin sekali menghajar namja yang mirip dengannya. Ia semakin kesal melihat senyum Leeteuk yang menampakkan lesung pipi kecil, sama yang Jungsoo miliki. Mau tak mau Jungsoo pun menurut, membuat Leeteuk tertawa pelan.



"Wow, suasana ini romantis sekali. Kita seperti sedang kencan saja ya, hyungie? Hhihii..."



Mereka mulai menyendokkan nasi ke piring masing-masing.



"Eungh, sebenarnya aku tidak yakin dengan rasanya, hyungie. Tapi aku yakin kalau pun tidak enak, ini tidak akan membunuhmu. Paling hanya sakit perut saja, hyungie. Hihihihi...."



"Ambilkan pisau itu!" pinta Jungsoo menunjuk pisau buah yang ada di atas meja dapur tak jauh dari tempat mereka makan.



Leeteuk menoleh ke arah yang ditunjuk Hyung-nya, "Untuk apa? Tidak ada daging di masakanku, hyungie.." tanyanya heran.



"Tentu saja untuk membunuhmu!" jawab Jungsoo datar dan terdengar serius. Seketika tawa Leeteuk terpecah. Ia lupa jika Hyung-nya yang aneh itu mempunyai selera humor juga.


Mereka pun mulai menikmati makan malam itu tanpa membahas bagaimana rasanya masakan itu.



"Sudah sebulan di sini, apa kau tidak merindukan umma dan appa, Hyungie?"



"Ania," jawab namja yang telah mengganti warna rambutnya menjadi hitam kecoklatan itu. Leeteuk menarik ujung bibirnya, ia tahu Hyungnya berbohong.



"Tapi ternyata tinggal di bumi tidak seburuk yang aku pikirkan, Hyungie. Mereka sangat baik, bersahabat dan juga gila. Hahaha.... apalagi Chullie. Oh! anak ikan yang bernama Donghae juga akan beraksi kalau berdekatan dengan anak teri Eunhyuk. Terus ada Kyu si evil, Yesung si Appa Ddangko brother yang hobi dance ubur-ubur. Ehmm...siapa lagi ya? Ahh, Kangin yang bertubuh gempal itu juga tidak kalah heboh," cerocos namja berambut hitam itu dengan semangat. 

"Manusia tidak bisa ditebak. Terkadang apa yang terlihat bukanlah yang sebenarnya, begitu pun sebaliknya. Mereka semua palsu sebelum topengnya dilepas. Kangin... aku tidak suka padanya," jelas Jungsoo yang mulai menikmati makan malam itu.



"Waeyo?" tanya Leeteuk heran. Jungsoo tidak menjawabnya.



Well, sepertinya semenjak mereka tinggal di bumi, keadaan mereka mulai membaik. Tidak ada lagi pertengkaran karena namja usil berambut hitam itu mendadak sembuh dari 'penyakitnya'. Leeteuk yang selalu membuat Hyungnya naik pitam karena kejahilannya yang terkadang melampaui batas, kini berubah sejak mereka tinggal di bumi.



Kegiatan baru mereka sebagai manusia membuat Leeteuk melupakan masa- masa yang menyenangkan baginya. Saat menjadi malaikat dulu, ia selalu mengekor dengan hyungnya karena mereka tidak mempunyai teman sebaya di sana. Jungsoo sendiri tidak mempermasalahkannya, tentu saja karena mereka kembar dan saling terikat tanpa batasan.


TBC..!!!
Thanks to read and everything that u give me #bow
Ada berkenan absen?? :D

This is My World © 2008 Template by:
SkinCorner